[Fanfiction] Phobia Get Me In Love part.1

Title                 : Phobia Get Me In Love

Author             : mandafishy

Cast                 : U and other

Disclaimer       : I only own the plot, the characters are all belong to themselves, do not take it out without permission.

Haloo !!

Sebelum baca ff yang nista dan ababil ini, silahkan siapkan ember ya, buat muntah😄

Happy Reading😀

Mataku mengerjap pelan ketika biasan cahaya matahari menyentuh tepat di pelupuk mataku. Jemari ku mengepal ringan, lalu ku tarik ke sudut atas sejajar dengan tubuhku. Mimpiku hari ini benar benar gila. Ini adalah hari ketigaku memimpikannya. Seseorang di alam mimpiku terlihat cool dan keren meskipun aku tak melihat jelas wajahnya. Dia menggenggam jemariku, berdansa denganku bahkan mengecup punggung tanganku.

Sayang, semua bertolak 180 derajat dengan kepribadianku. Tubuhku tak berkeringat dingin, kepalaku tidak pusing, badanku juga tak bergetar hebat, dan aku tetap berdiri menatapnya, menerima semua perlakuan dan pesonanya. Setan apa yang menggodaku, hingga aku selalu memimpikannya berkali-kali? Keadaan ini yang sebenarnya lebih membuatku jenuh. Oh ayolah, kau tak mungkin menikmati phobia ini. Tentu saja, kau tak akan mempunyai banyak teman, ditambah lagi semua orang menganggapmu gadis yang aneh, karena inilah yang aku rasakaan saat ini.

Halo! Namaku Park Sunhae, aku tinggal berdua bersama oppa-ku, Park Jungsoo. Bumonim meninggalkan kami semenjak kecelakaan 10 tahun yang lalu. Disaat usiaku belum genap tujuh tahun. Sampai detik ini, selalu ada Jungsoo oppa yang mengisi hariku. Dia ku anggap sebagai oppa sekaligus appa-ku.

Sebenarnya, aku menderita phobia aneh, yang takut di sentuh bahkan di tatap terlalu lama oleh seorang laki-laki. Tentu saja, pengecualian untuk oppaku. Oppa yang selalu merawat dan melindungiku, mungkin itulah sebab tubuhku terbiasa berinteraksi dengannya. Phobia ini baru aku sadari saat seseorang menyatakan cintanya padaku di upacara kelulusan SMP. Segala cara sudah aku lakukan agar tubuhku kembali normal, tapi tetap saja terapi-terapi itu selalu gagal. Oke! aku mulai frustasi sekarang.

“Sunhae-ya, kau sudah bangun?”  ketuk seseorang didepan pintu kamarku.

“ne, sebentar lagi aku segera turun”

Aku duduk diatas ranjangku, kemudian beranjak menuju balkon kamarku. Udara pagi ini masih sejuk, mungkin olahraga sebentar bukan ide yang buruk. Aku memejamkan mata dan mengayunkan tanganku ke kanan dan kekiri. Sesekali dengan memutar kepalaku.

Didepan kamarku berdiri sebuah rumah yang balkon kamarnya juga menghadap ke balkon kamarku. Yah, maksudku balkon kamar kami saling berhadapan. Tapi sayang, rumah itu tak berpenghuni. Terkadang terlihat beberapa orang hanya untuk membersihkan rumah ini. Rumah kosong ini memang selalu terlihat bersih. Entahlah, sebenarnya untuk apa rumah ini dibangun jika tidak di tempati?

Diantara balkonku dan balkon rumah kosong itu ada pohon tua yang kokoh sebagai batas rumah kami. Aku bisa saja berjalan menyebrangi pohon ini untuk sekedar bermain dirumah kosong itu. Tapi, aku cukup takut ketinggian.

Oke! Cukup membahas rumah kosong di depanku ini. Aku menggerak-gerakkan badanku lagi. Namun entahlah, sesuatu berdiri dan muncullah sekelebat bayangan putih di kamar rumah kosong depanku ini.

“KKYYYYYAAAA!!! OPPPA” Akuku menutup mataku dengan ke dua tanganku.

“yah!! Ada apa?” kudengar oppa berlari mendekatiku.

“oppa… ada hantu disana!” aku menunjuknya dengan telunjukku. Nyatanya aku memang takut hantu. Aku tetap menundukkan wajahku, takut bayangan putih itu akan menerkamku.

“annyeong! Sepertinya adikku ini belum menyadari tetangga barunya. Maaf sudah mengganggumu pagi-pagi begini.” Ujar Jungsoo oppa yang tiba-tiba berdiri di sampingku.

“te-tangga baru?” ujarku terbata. Oh Tuhan, jadi sekelebat bayangan putih itu manusiakah? Babo!!

“gwaenchana, mianhae aku sudah membuatnya takut agaesshi, hmm..” ujar namja itu

Aku menengadahkan wajahku. Ah babo! Benar-benar memalukan. Dia memandangku geli, sengaja aku hindari tatapannya yang seolah mengejar manik mataku itu. Jungsoo oppa menarik bahuku, merangkulku.

“oh, panggil dia Sunhae, Park Sunhae. Sepertinya kalian satu tingkat sekolah dan aku Park Jungsoo. Kau bisa memanggilku hyung.”

“Ah, annyeonghaseo Sunhae-sshi, hyung-nim.”, ucapnya sambil sedikit membungkuk.

“naneun Lee Donghae imnida, manasseo bangapsseumnida.”, lanjutnya. Setidaknya, orang yang aku anggap ‘hantu’ itu masih terdengar ramah di telingaku.

***

“Kau akan pergi dengan Eunji eonni, oppa?” tanyaku pada Jungsoo oppa yang sore itu memakai kemeja biru dengan berbalut jas yang kurasa terlihat sangat keren dimataku. Eunji eonni adalah kekasih oppa dua tahun ini.

“ye, kau tahu hari ini ulang tahunnya, dan sebenarnya oppa akan melamarnya malam ini.”, ucapnya lirih. Tatapan Jungsoo oppa terlihat serius.

“Jinjjayo oppa? Jeongmal?” aku terperanjat kaget mendengarnya. Aku bahagia jika kau bahagia tapi entahlah hatiku belum siap mendengarnya.

“ku kira, aku sudah siap sekarang haebaragi-ya. Hmm, apa kau merestuinya? Oppa harus meminja ijinmu dulu.” Aku tak pernah mendengar nada suaranya seperti ini. Tatapannya benar-benar serius.

“yah, tentu saja. Kenapa kau seperti ini oppa? Tentu saja aku selalu mendukungmu. Aku menyukai Eunji eonni seperti aku menyayangimu. Dia sudah ku anggap seperti eonni ku sendiri. Jangan pernah membuatnya menangis sekalipun oppa.”, tuturku dengan menunjukkan senyum terbaikku. Jungsoo oppa kemudian memelukku.

“Oppa selalu bangga memiliki yeodongsaeng sepertimu. Kau selalu bisa aku andalkan. Oppa selalu akan menjadikanmu wanita kedua setelah eommo-nim. Aku akan selalu menyayangimu. Saranghae nae yeodongsaeng. Kurasa bunga matahari adalah nama yang cocok untukmu sunhae sayang”, ucapnya lembut di telingaku. Aku melepaskan pelukannya.

“yaaah! Oppa! Kata katamu sungguh, hmm~ cepat kau lamar eonni sekarang!” hardikku tersenyum. Ada sedikit rasa legah yang menjalar dirongga dadaku. Oppa mengacak acak rambutku  gemas. Aku hanya mengembungkan pipiku, kebiasaanku jika sedang kesal.

“baiklah oppa pergi sekarang” terdengar napasnya berhembus berat, kurasa oppa mulai gelisah sekarang.

“oppa!!!…. fighting” oppa sangat tampan dengan setelan jas itu. Setidaknya dia memang selalu keren di mataku.

“jangan langsung bukakan pintu jika ada tamu. Lihat intercom dulu, pastikan tamunya yeoja, baru kau bukakan pintu. Jika dia laki laki atau orang asing sebaiknya jangan kau bukakan pintunya, arachi?” yah aku selalu bosan  mendengarnya bla bla bla seperti ini. Aku sudah besar dan cukup mengerti.

“ne ne ne arasseo. Bisakah kau percepat langkahmu sekarang oppa? Kurasa aku harus segera mengunci pintunya sekarang!”

***

Sekarang, aku sendiri di rumah. Tenang, namun sangat membosankan. Seperti inikah keadaan yang akan aku rasakan jika oppa sudah menikah nanti? Aku pasti akan terabaikan.

Aku mencoret-coret kertas di meja belajarku ini geram. Sesekali aku menggerakan kursi kayu yang aku duduki ini, kebiasaanku ketika sedang berpikir. Aku bosan.

“AGAESSHIII!!!!!!”

BRUKK`!@#$%^&*

Yah!! Suara itu mengagetkanku! Seketika kepalaku terjerembab di lantai dan oh Tuhan kakiku terjepit di kursi ini. Sial!!

“agaesshi gwaenchanayo” samar samar aku mendengarnya memanggilku. Yah!! Suara ini benar benar membuatku terlihat bodoh!

‘Ah! Eottokhe?’ Ini sakit sekali bodoh! Aku meringis kesakitan, tiba tiba seseorang menarik tanganku. Membantuku bangun. Tanpa ku lihat wajahnya, genggaman itu tak asing menyentuh tanganku. Tak salah lagi dia.. Saat ku tolehkan wajahku untuk menatapnya, mata itu. Seketika badanku langsung limbung dan kurasa…

***

Aku mengerjapkan mataku pelan. Mimpi itu datang lagi. Ommo! Mengapa dia suka sekali mengganggu tidurku. Tunggu! Tapi, dimimpiku tadi dia menciumku? Mengapa aku sungguh merasakannya? Ya Tuhan mungkin aku benar benar sudah gila. Entahlah mungkin jika kau diposisiku sekarang, kau akan mengerti maksudku.

Didepan kamarku –tepatnya di balkon kamarku- seseorang berdiri memandang bintang, kurasa. Dia …

“Oppa, apa yang kau lakukan disini?”,ujarku. Aku beranjak dari ranjangku dan duduk bersilah di atasnya.

“gwaenchanayo?”, sambungku. Wajahnya terlihat sedikit kusut dan lelah.

“sudah bangun?” ujarnya kemudian masuk kedalam dan duduk di sampingku, diatas ranjangku.

“aku… kenapa oppa bisa masuk? Aku menguncinya tadi”

Jungsoo oppa hanya mengangkat kunci duplikat ditangannya. Ye, aku lupa, oppa memiliki semua kunci duplikat di rumah ini.

“Oppa, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu sekusut ini? apa yang terjadi dengan Eunji eonni?”. Aku menunggu jawabannya. Oppa hanya tersenyum, menunjukkan guratan senyum dipipinya itu.

“Eunji.. dia menerimaku”

“jinjjayoo? Oppa, bukankah itu berarti kau dan Eunji eonni akan segera menikah?”. Aku senang melihatnya tersenyum seperti itu. Senyuman malaikatku.

***

Hari ini oppa mengantarku ke sekolah seperti biasa dan katanya, dia akan menemui Eunji eonni untuk bertemu dengan orangtuanya. Oke! Mungkin apa yang aku pikirkan kemarin malam akan segera menimpaku.

Tubuhku sedikit lemas, entahlah apa yang terjadi denganku sekarang. Kurasa terserang flu. Aku menyusuri koridor sekolah dengan berjalan gontai. Kepalaku sedikit pusing, tentunya.

“BRUUKK!!@#$%&*^”, Seseorang menabrakku.

Aisshh!! Tubuhku sedikit limbung. Orang itu menangkap tanganku, fuuuh untunglah! Jika tidak pasti akan sangat memalukan sekali.

“neo? Gwaenchanayo?”, ujarnya bertanya padaku, dia Cho Kyuhyun. Segera aku hindari tatapan itu dan bergerak menjauh darinya.

“ne, gomawoyo kyuhyunnie” ucapku sedikit terbata.

Kyuhyun dulu temanku di Caslenalt Kindergarten, alih-alih sekarang dia juga sekelas denganku. Kyuhyun terkenal sebagai prince charming di sini. Tentu saja gadis-gadis di Neul Paran High School ini banyak yang menyukainya. Dulu kami pernah berteman akrab, tapi semenjak lulus dan melanjutkan ke Sekolah Dasar kami sudah tak pernah bertemu dan itu dulu, sebelum aku mengalami phobia ini.

“hmm, lain kali kau harus lebih hati-hati, sunhae-ya”, ucap Kyuhyun padaku. Suaranya terdengar lembut berbeda dari suaranya dulu yang masih cempreng dan kekanak-kanakan sekali. Aku menengadahkan wajahku untuk melihat wajahnya.

“ne, gomawoyo kyunnie, mianh aku sedang buru-buru” kepalaku terasa pening dan mataku berair panas. Tubuhku bergetar hebat sekarang.

Aku harus cepat pergi dari sini sebelum….

Bruuuukkk!!

***

Ruangan putih ini dimana aku sekarang? Kepalaku sedikit pusing. Ah, kurasa aku mengenal tempat ini.

“sunhae-ya, kau sudah sadar?”. Dia adalah Kim Sookyung, teman terbaikku.

“aku di UKS lagi?”,

Sebenarnya aku cukup sering di UKS ini, mengenal phobia yang aku derita ini. Aku sering pingsan dimanapun dan kapanku. Yah mungkin seperti yang ku alami tadi.

Sookyung adalah anggota club UKS di sekolah ini. Kami berteman akrab walau nyatanya kita tidak sekelas.

“ya, kau tahu? Tadi si tampan yang menolongmu”. Mataku sedikit memicing mendengar Sookyung mengatakan kalimat itu.

“Tam-pan?” tanyaku penuh penekanan. Mungkinkah itu Kyuhyunnie yang menolongku? Ah ayolah siapa lagi namja tampan di sekolah ini? mungkin tebakanku benar.

“bad boy? Ah anniyo~ dia murid baru disini. Pindahan dari Mokpo kalau aku tidak salah dengar tadi.” Ujarnya sedikit geram. Yah, bad boy adalah name lain Kyuhyun. Melihat ada banyak gadis yang sudah di tolaknya selama ini dan menurut gossip yang beredar Kyuhyun adalah seorang Evil Bad Boy.

“Siapa? Jadi, yang menolongku seorang namja.”, ujarku menarik kesimpulan. Ini jarang sekali terjadi, bahkan tidak pernah. Biasanya selalu ada Soowon yang mengantarku ke UKS, dia teman sebangku-ku.

“nugu? Siapa namanya?” sambungku penuh penasaran.

“mollaa~  aku lupa menanyakan namanya. Hehe”, kekeh Sookyung pelan.

“Cih~ kau ini, selalu saja, pasti  kau tadi salah tingkah menghadapi namja yang katamu tam-pan tadi, ya-kan?”, kataku sedikit gusar dan penuh penekanan ‘tam-pan’.

“setidaknya kau lebih parah dariku Sunhae-ya! Ingat phobiamu!”

Aku hanya menggembungkan pipiku kesal. Oke! Phobiaku memang sangat memalukan, tapi setidaknya aku tetap berusaha untuk menjadi normal, Sookyung-ah tsk.

***

Aku memasuki ruangan kelasku. Aku langsung mengambil duduk disebelah Soowon, lalu meletakkan kepalaku di atas meja. Lemas sekali badaku. Kurasa flu ini benar-benar menyiksaku.

“yak! Kau kemana saja? Aku menunggumu dari tadi. Kukira kau tak akan masuk sekolah”

“aku tadi berada di UKS Soowon-ah”, ucapku dengan nada serak.

“Ah kau ini! ..” ujanya menoyor lengan kiri tanganku pelan. “oiya, tadi kita kedatangan siswa baru. Dia datang dari Mokpo” sambungnya lagi. Aku memicingkan mataku heran. Mokpo? Namja yang tadi menolongku-kah?

“Dia…” Soowon tiba-tiba diam, tidak melanjutkan ocehannya, entahlah.

“dia kenapa?” tanyaku penasaran. Mata Soowon tertuju ke depan kelas. Ah okelah terserahnya saja. Aku akan melanjutkan istirahatku tadi disini.

Seseorang menyentuh keningku. Tetap diposisiku tadi, kepalaku menempel pada meja. Aku membuka mataku.

“kau masih sakit? Kenapa sudah masuk kelas?” sontak mendengar suara itu. Aku-pun langsung mengangkat kepalaku.

“neo?”, ucapku terperanjat kaget. Tetangga baruku? Oke, aku tahu dia setingkat sekolah denganku. Tapi, kenapa dia ada disini? Tidak! Jangan bilang dia yang menolongku tadi pagi. Ups, bukankah dia yang mengagetkanku dan menolongku kemarin sore?

“Aku juga sedang flu. Obat ini sangat manjur, cobalah.” Donghae memberikan obat itu kepadaku. Mungkin maksudnya baik.

“ne, gomawo”

“hmm”, ujarnya berdehem kemudian segera pergi dari pandanganku.

“wah, dia memberimu obat? Dialah murid baru itu. Dia cukup tampan-kan?” bisik Soowon padaku.

“lihatlah, dia duduk tepat di belakangmu, sunhae-ya” sambungnya kemudian. Tanpa mood, aku meletakkan kepalaku kembali di atas meja. Maaf Soowon-ah, aku sedang tidak moody untuk membahasnya. Sementara Kim songsaeng-nim menjelaskan didepan kelas. Aku hanya memperhatikannya sesekali. Flu ini benar-benar membuatku tak bergairah, tsk!

***

“sunhae-ya, kurasa tentang phobiamu, kau sedikit ada kemajuan”, ucap Soowon, saat kami akan menuju ke depan gerbang sekolah

“benarkah?”, jawabku asal.

“kau ingat? Namja mokpo tadi, Lee Donghae menyentuh keningmu. Coba apa yang kau rasakan tadi?”

Kurasa ini bukan perubahanku, Soowon-ah. Mungkin tangannya yang tak asing untukku, karena itulah tidak ada efek apapun yang terjadi pada tubuhku. Tapi tentu saja, aku tidak akan menceritakan masalah ini dulu padamu, Soowon-ah. Aku akan mencari tahunya dulu.

“hmm, kurasa sama saja Soowon-ah. Kau tahu? Tadi pagi saja aku pingsan gara-gara kyuhyun menatapku dan menarik tanganku”, sungutku.

“hmm, mungkin saja” lanjutku, kataku sedikit kaku.

“ah baiklah, sepertinya kau sudah di jemput oppa tertampanmu, dan kurasa siwon akan segera datang menjemputku.”

“baiklah, aku pulang sekarang, bye”, akuku.

“hati-hati dijalan.”

***

Hari ini hal yang ingin aku lakukan sekarang adalah istirahat di kamar. Badanku lemas sekali. Setelah selesai makan dan minum obat dari pemberian Donghae tadi, akupun segera beranjak untuk tidur siang. Energiku benar-benar terforsir gara gara flu yang menyebalkan ini. Jungsoo oppa, setelah mengantarku pulang tadi, dia cepat-cepat kembali ke kantor untuk meeting dan katanya dia akan lembur hari ini.

***

Aku mengerjapkan mataku pelan. Sepertinya tidurku nyanyak sekali. Aku terperanjat kaget saatku lihat seseorang tertidur di meja belajarku. Dia bukan oppa, bukankah oppa sedang lembur dikantor? Bagaimana caranya dia bisa masuk?

Cepat cepat beranjak dari ranjangku. Aku melangkah ringan agar tidak menimbulkan suara. Segera aku mengambil guling di sebelahku untuk ku gunakan sebagai alat pemukul. Alih alih nanti jika dia macam macam padaku. Ku lihat wajahnya terpejam, ternyata dia Lee donghae, tetangga baruku. Sejak kapan dia berada disini? Mengapa dia bisa masuk kamarku? Dasar tidak sopan!! Aku ingin sekali membangunkannya dan menendangnya segera dari sini tapi melihatnya tertidur, aku tahu sepertinya dia lelah sekali. Dan kurasa dia memanfaatkan pohon itu untuk dapat masuk ke kamarku. Tsk!!

Matanya yang sayu itu terlihat seperti anak kecil yang sedang tertidur. Aku mencermati tangannya yang besar ini. Melihat lekukan jarinya yang indah. Entahlah, jari jari ini seolah tak asing lagi bagiku. Padahal, aku saja baru bertemu dengannya kemarin. Tetapi kenapa jarinya begitu aku kenal?

“sunhae-sshi, kau sudahh bangun?” ucapnya dengan suara seraknya yang lemah. Sontak, akupun langsung menjauh dari hadapannya, cepat cepat menghindari tatapannya yang sayu itu.

“aku lapar, kau ada makanan?”, lanjutnya tetap dengan suaranya yang parau itu.

“YAK!! Apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau bisa masuk kemarku?” hardikku

“aku hanya butuh makanan”

Dia benar-benar lancang, sudah masuk kamarku tanpa ijin. Sekarang malah minta mankanan, huh? Benar benar menyebalkan!!

“cih~” aku mendengus sebal. Benar benar pria yang menyebalkan. Aku mengambil makanan ke dapur, mengambil makanan sisa sarapan tadi pagi.

“yeogi” aku meletakkan sepiring sandwich diatas meja belajarku. Meletakkannya tepat di sebelah kepalanya yang ditidurkanya diatas meja.

“hanya ini, bisakah kau cepar pergi dari kamarku?, huh!!” akuku.

“aku… aku.. “ ucapnya terbata. Wajahnya terlihat sangat pucat. Matanya terkatup katup berat. Kurasa dia sakit, atau mencoba untuk membohongiku?

Pria ini menarik tanganku kasar. Meletakkan punggung tanganku tepat di keningnya. Panas ? jeongmal …

“kau sakit? Kenapa panas sekali?” ujarku dengan suara meleleh. Matanya masih terpejam. Seolah aku sendiri yang harus menyimpulkan apa yang terjadi. Kau benar benar merepotkan! Aissssh jebal…

DDRTT… DDDRT..

Ku ambil ponselku diatas ranjang.

Soowon calling ….

“yeo–yoboseyo?”

“sunhae-ya, apa kau ada dirumah sekarang? Aku ada disekitar daerah rumahmu. Aku ingin mampir sebentar” , ucap Soowon diseberang sana. Mworago?!! Apa yang harus aku lakukan sekarang…

“mianhae, aku sedang tidak dirumah Soowon-ah, lain kali saja yaa?”. Aissh mianhae, lagi lagi aku harus membohongimu Soowon-ah.

“eo, gwaenchana. Arasseo, lain kali saja. Annyeonghi”

“annyeong” cepat cepat aku menutup flip ponselku. Haaa~ untung saja.

DDRTT DDDRT…

Jungsoo oppa calling ….

Lagi?  Jebal..

“o-oppa?”

“sunhae-ya, kau sudah makan, huh? Sepertinya malam ini oppa tidak akan pulang telat”

“mwoooo?” aku yang mendengar telpon dari oppa ini mendadak berteriak.

“ne, waeyo?”

 “ah, anii~”

“kemungkinan, oppa akan bermalam disini. Berkas-berkas ini perlu di revisi ulang, belum lagi semua dokumen dokumen ini”, ujarnya frustasi. Oppaku yang malang.

Huuffh!! untung saja. Setidaknya aku sedikit bisa bernapas legah malam ini.

“oppa, fighting!! Kau  harus tetap semangat oppa. Jangan lupa makan yang banyak.”

“oppa sudah selesai makan tadi, kau harus makan juga. Kalau kau takut di rumah sendiri, oppa bisa panggilkan Eunji untukmu. Kau perlu ditemani?”

“ah-anniyoo, tidak usah. Ingat aku sudah besar oppa. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Annyeonghi.”

TIIT…  Segera ku matikan saluran telpon ini. Aku tidak mau nanti oppa malah bersikeras mendatangkan Eunji eonni kemari. Sekarang apa yang harus aku lakukan pada pria ini?

Aku merebahkannya diranjangku. Matanya tetap terpejam dan badannya juga sama panasnya seperti tadi. Tanpa babibu lagi, segera aku mengambil air hangat, untuk mengompresnya.

“sudah sakit seperti ini, kenapa kau malah minta makan pada orang lain, huh?”, ujarku sambil mengompres keningnya.

“baiklah, aku akan membuatkanmu bubur, untuk hari ini kau boleh istirahat disini.”, sambungku kemudian segera beranjak meninggalkannya menuju dapur.

***

Aku membawa semangkok bubur di nampan ini untuk Donghae. Dia masih tertidur, aku mencoba membangunkannya, memapahkan badannya. Menyandarkan tubuhnya pada sisi atas ranjangku. Awalnya Donghae tetap tidak membuka mulutnya untuk memakan bubur ini tapi setelah ku paksa akhirnya mau juga.

“jangan menatapku seperti itu Donghae-sshi”,ujarku berhenti menyuapinya bubur dan lebih memilih menundukkan wajahku ketika kurasa dia terus mengejar manik mataku.

“aku.. mengerti. Gomawo”, lirihnya, kemudian dia menutup matanya lagi.

Aku mengompresnya lagi. Suhu badannya belum juga turun. Apa perlu aku memanggilkannya dokter?

Aku beranjak pergi, ku putuskan untuk menghubungi dokter. Namun, sepasang tangan itu menghentikan langkahku. Tangan Donghae menarik lenganku. Apa yang harus aku lakukan, huh?

“Donghae-sshi?”, ucapku pelan

“jebal, kajima. Tetap disini, disisiku.”, ucapnya terbata, setengah berbisik namun terdengar jelas di telingaku.

***

——– ada yang mau melanjutkannya?

Ada yang mau nyumbang karyanya? Atau ada yang mau ber-argumen, bagaimana kisah selanjutnya? Aku tahu ceritaku ini memang gampang banget di tebak-kan? Aku ngga pandai ngeluarin unek unek hhihihi aku juga ngga pandai ngeluarin apa yang ingin aku tulis. Fanfic ini karya aku pas duluu banget sebenernya, ini Cuma re-post an ff dari hape hoho. Dihapeku yang butut ini, sebenernya ada bejibun ff yang keprivat😄 berhubung pengen aku hapus yang ini, jadi aku tulis ulang disini. Cerita ini ngebosenin banget yah? Mianh yah yang udah baca terus kecewa banget sama karya aku. Aku harap kalian bisa comment biar aku tahu dimana letak kesalahan aku. Makasih reader!!

About mandafishy

Iam just me! Nothing more nothing less and im not pretty but im the best :D Called me just MISS. SIMPLE

Posted on August 27, 2011, in Imagination and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. annyeong..
    loh, kok ga dilanjut toh? penasaran saya..
    klu mnurutku mau crita pasaran ato mudah ditebak bakal tetep menarik klu gaya ceritanya ga bosenin..
    dan menurutku tulisan kamu ga bosenin kok.. =)

I will appreciate you more if you'll give a comment, thanks: D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: