[Fanfiction] The Letter To Sun

Author : Nav or @senjanavisa  <– (salah satu author favorit akuu nih *nggananya )

pernah di publish juga di http://superjuniorff2010.wordpress.com/

Cast :

Park Jungsu a.k.a Leeteuk

Lee Donghae

Kim Sunri

and other Cast

—————————————-

“Krieeeettt.” Aku membuka kamar rawat  dongsaeng-ku. Kulihat Donghae, dongsaeng-ku itu, sedang membuat burung  bangau dari kertas lipat yang kubawa untuknya kemarin.
“Leeteuk-hyung,” sapa Donghae, menoleh sedikit padaku, lalu kembali  menekuni pekerjaannya melipat kertas-kertas berwarna-warni itu.
“Sudah berapa banyak yang kau buat?” tanyaku, lalu duduk di ranjang Donghae.

“Entah lah, aku belum menghitungnya. Nanti bantu aku hitung ya, Hyung.”
“Baiklah.” Aku tersenyum, lalu mengacak rambut Donghae. “Donghae-ya, mana Umma?”
“Oh, tadi katanya mau beli kimchi dulu di kantin bawah,” jawab Donghae singkat.
“Obatmu sudah kau minum?” tanyaku lagi, ketika melihat botol obat Donghae yang masih utuh belum dibuka.
“Nanti saja, Hyung…”
“Aiisshh… Tidak bisa! Minum sekarang!” Aku mengambil obat-obat Donghae  yang jumlahnya lumayan banyak itu, lalu kuberikan pada dongsaeng-ku itu.  Donghae meminum obat-obatnya dengan setengah hati. Kesal karena  pekerjaannya harus diganggu.
“Hyung tahu tidak, aku sudah mulai bosan minum obat,” gumam Donghae selesai meminum obatnya.
Aku hanya tersenyum getir. Tak tahu harus menjawab apa. Aku hanya  memandang dongsaeng-ku itu melipat kertas-kertas berwarna tanpa berkata  apa-apa.
Sudah beberapa bulan ini Donghae dirawat di rumah sakit ini karena  penyakit kelainan jantung yang dideritanya sejak lahir. Dua tahun yang  lalu, ketika baru saja masuk SMU, dia menjalani operasi. Namun karena  penyakitnya tergolong kompleks dan parah, penyakitnya kambuh lagi  beberapa bulan belakangan ini. Dokter yang menanganinya berkata akan  berusaha semaksimal mungkin menyembuhkan Donghae. Umma dan Appa bahkan  mendesak dokter untuk kembali mengoperasi Donghae. Namun dokter tak  berani melakukannya. Selain karena fisik Donghae tak sekuat dulu untuk  menjalani operasi, juga karena menurut mereka, sudah tak banyak yang  bisa dilakukan untuk menolong Donghae. Kami semua hanya bisa  menggantungkan harapan pada obat-obatan yang kami harap bisa  memperpanjang hidup Donghae.
“Ya, Hyung, kenapa Hyung menangis?” Tiba-tiba Donghae bertanya, membuyarkan lamunanku. Buru-buru kuseka airmataku.
“Ani…siapa bilang Hyung nangis? Ini kemasukan debu.”
“Aigoo, Hyung selalu bilang begitu. Sudahlah, Hyung tak perlu sedih memikirkanku.”
“Ya! Donghae-ya, siapa juga yang memikirkanmu?!” bentakku pura-pura marah. Donghae hanya tertawa kecil.
“Ah, baiklah!” Tiba-tiba Donghae bersorak riang. “Leeteuk-hyung, bantu  aku menghitungnya!” Donghae menumpahkan ratusan burung bangau lipat di  pangkuannya.
“Aiissh, sudah sebanyak inikah?!” Aku berdecak kagum melihat begitu banyak burung lipat yang berhasil dibuatnya.
“Hyung lupa kalau tiap hari aku membuatnya? Aku kan tak ada kerjaan, Hyung.”
Lalu, kamipun mulai menghitung burung-burung lipat itu.
“Donghae-ya, buat apa sih kau bikin burung lipat sebanyak ini?” tanyaku iseng.
“Ah, aku pernah membaca cerita tentang gadis kecil yang sedang sakit  membuat seribu burung bangau lipat. Dia bermimpi, kalau dia berhasil  membuat seribu burung bangau lipat seperti ini, maka akan ada keajaiban  dan dia akan sembuh.”
“Lalu? Dia sembuh?”
“Tidak. Dia mati.”
“MWO???!!!” Aku berteriak keras sekali.
Donghae memelototiku. “Ya, Hyung, di sini rumah sakit. Jangan teriak begitu!”
“Kau yang membuatku kaget! Kenapa menceritakannya? Dan lagi, kenapa  percaya pada hal seperti itu? Aiisshh..” Tiba-tiba aku kesal sekali  padanya.
“Memangnya kenapa? Ada yang salah?” tanyanya polos.
“Apa kau ingin cepat-cepat mati? Hah?!”
“Aniiii… bukan begitu maksudku. Kalau aku berhasil membuat seribu burung  lipat, mungkin aku akan sembuh. Tapi kalaupun tidak, ya minimal aku  sudah berusaha kan, Hyung?”
Aku terdiam, lalu mengangguk dengan terpaksa. Dia tahu sejauh mana kekuatannya.
Akhirnya setelah lama sekali menghitung, selesai juga. Donghae telah  membuat tujuh ratus delapan puluh burung bangau lipat ini. Menakjubkan.
“Hyung, lihat, kurang dua ratus lima puluh lagi dan aku akan keluar dari  rumah sakit ini!” Wajahnya, walaupun pucat, terlihat  berseri-seri  ketika mengatakannya.
“Donghae-ya, kau pasti sembuh,” janjiku.

***

Donghae menatap keluar jendelanya dengan  tatapan dingin. Rumah sakit ini dibangun tak jauh dari pantai. Hanya  berjarak sekitar tiga ratus meter dari laut. Dan sejak dia dirawat di  sini, belum pernah sekalipun dia ke pantai itu. Kamarnya tepat  berhadapan dengan laut, jadi dia benar-benar ingin bisa keluar dari  kamarnya dan menikmati keindahan laut itu.
Jam di kamarnya sudah menunjukkan pukul setengah duabelas malam. Tapi  Donghae sama sekali tak bisa tidur. Lampu-lampu di lorong rumah sakit  sudah dipadamkan. Dan suster jaga pun hanya sesekali lewat dan mengecek  keadaan.
“Ah, aku bosan di sini terus!” gumamnya pelan.
Perlahan, dia bangun dari tidurnya dan pelan-pelan berjalan keluar.  Dibawanya satu burung bangau lipatnya dan sebuah pulpen. Hati-hati  sekali dibukanya pintu kamarnya agar tak bersuara. Dilihatnya lorong  yang sudah sepi dan gelap. Donghae berteriak senang dalam hati.
Dengan mengendap-endap dia keluar dari rumah sakit yang penjagaannya  agak longgar ini. Dia berjalan menuju ke pantai yang selama ini hanya  bisa dilihatnya lewat jendela itu.
Sampai di tepi laut, Donghae tertawa lepas.
“Hahahaha…!!! Aku sampai juga ke tempat ini… AAAAAAAA!!!” Dia berteriak  keras sekali, tapi suara debur ombak dengan cepat mengaburkannya. Walau  dia hampir tak bisa melihat laut karena keadaan yang gelap sekali, dia  tetap merasa senang luar biasa. Untuk pertama kalinya sejak tiga bulan  ini, dia bisa menghirup udara bebas.
Tak berapa lama kemudian, dia menemukan sebuah karang besar. Donghae  duduk beristirahat di ceruknya. Dikeluarkannya burung bangau lipat dan  pulpen yang tadi dibawanya. Dia membuka lipatan kertas itu, lalu  menuliskan sesuatu.

Anneyonghaseo, Sea imnida.
Hai, aku Sea. Ini untuk pertama kalinya aku datang ke pantai ini. Lihat,  pantai yang indah, bukan? Yah, walau hanya samar-samar melihatnya  karena gelap, aku tetap menikmatinya. Benar-benar indah!
Sebetulnya aku suka berenang, tapi sudah beberapa waktu ini aku tak lagi berenang, karena beberapa alasan sih.
Oh ya, apa besok aku masih bisa kesini lagi ya? Yah, bagaimanapun, aku akan datang ke sini lagi. Pokoknya pasti! ^_^
Sea

Donghae menuliskan sebuah surat di dalam  kertas itu. Dia menggunakan kata ‘Sea’ karena namanya yang berarti  ‘Laut’. Lalu, dia kembali melipat kertas tadi menjadi bentuk bangau.  Diletakkannya bangau lipat itu di tempat yang agak tinggi agar tak  terkena air laut. Dia tak punya maksud apa-apa, dia hanya ingin  mengutarakan rasa senangnya.

***

“Sunri-ya, cepat bangun! Nanti kau  terlambat masuk sekolah!” Terdengar suara Umma di balik pintu kamarku,  berteriak membangunkanku.
“Iye, Ummaaa… Aku sudah bangun…” Dengan malas aku beranjak dari tempat tidurku.
Setelah selesai mandi dan memakai baju seragamku yang baru (baru kemarin  lusa aku pindah ke kota ini dan hari ini adalah hari pertamaku masuk ke  sekolah baru), aku turun ke lantai satu, ke ruang makan dimana  kedua  orang tuaku dan juga kedua dongsaeng-ku sudah berkumpul.
“Noona, kenapa Noona selalu terlambat bangun sih?” tanya Minjae,  dongsang-ku yang paling bungsu, yang memang selalu bangun paling pagi.
“Karena Sunri-noona tak pernah cukup hanya tidur di waktu malam. Dia  harusnya tidur sejak pagi, dan baru bangun pagi esoknya!” Malah Hyunkyo,  dongsaeng-ku yang hanya dua tahun lebih muda dariku, yang menjawab.
“Geezz, kalian benar-benar tak sopan!” ucapku kesal.
“Sudah, sudah, cepat kalian makan. Nanti kalian terlambat ke sekolah.  Ini hari pertama di sekolah baru, kan?!” Umma melerai kami, lalu  menyuruh kami cepat makan.
Aku menyelesaikan sarapanku paling akhir.  “Noona juga selalu lambat  kalau makan!” oceh Minjae tepat sebelum berangkat. Aisshh, dia baru  berumur sepuluh tahun, kenapa sudah bawel sekali sih?
“Sunri-ya, cepat selesaikan makanmu,” perintah Umma.  “Nanti kan kau  harus jalan kaki ke sekolah, memangnya kau mau berlari kalau terlambat?”
“Iye, Ummaaaa…” Aku menjawab sekenanya. Jalan menuju sekolah baruku  memang tak ada bis, dan aku juga tak bisa naik sepeda, jadi aku memilih  jalan kaki.
Setelah selesai sarapan, aku mengambil tasku, berpamitan pada Umma dan  Appa, lalu berlari keluar rumah. “Sunri-ya, jangan lari! Nanti kau  terpeleset!” Kudengar suara Appa berteriak dari dalam. Aku  mengacuhkannya.
Sekolahku yang baru, Taekyon Senior High School, adalah salah satu  sekolah favorit di kota ini. Kata Appa, sekolah ini hanya berjarak  sekitar satu kilometer dari pantai. Wah, sepertinya nanti sepulang  sekolah, aku harus mampir dulu ke pantai.
Sampai di sekolah (untung belum terlambat), aku mencari kelasku. Dan dengan mudah aku menemukannya.
Saat bel tanda masuk kelas berbunyi, Kangin-songsaenim, wali kelasku, memperkenalkanku di depan kelas.
“Anneyong haseo, Kim Sunri imnida,” kataku memperkenalkan diri.
“Anneyong haseooo…” balas seisi kelas. Aku tersenyum senang. Kelihatannya mereka semua orang yang baik.
“Nah, Kim Sunri, tempat dudukmu di sebelah Han Eunji. Di samping  jendela, nomor tiga dari depan.” Kangin-songsaenim menunjuk pada seorang  gadis berpita merah yang tersenyum padaku.
“Anneyong haseo, Han Eunji imnida,” sapanya. Aku mengangguk padanya. “Kau baru pindah kemari, kan? Sudah keliling kota?”
Aku menggeleng. “Belum.”
“Ya, kalau begitu, sepulang sekolah nanti kuajak kau ke pantai. Hanya sekitar satu kilometer dari sini.”
“Benarkah? Kau tak keberatan?” tanyaku. Eunji mengangguk pasti. Dia benar-benar baik.
Dan benar saja, sepulang sekolah, Eunji mengajakku ke pantai yang  dimaksudnya. Pantai yang benar-benar indah dengan pasir putih dan ombak  yang tinggi. Beberapa batu karang besar tampak terlihat di tepi lautnya.
“Kau suka?” tanya Eunji.
“Ye. Gumawo, Eunji-ya.”
Selama beberapa lama kami menikmati pantai yang indah ini, sampai  kepalaku serasa terbakar karena tersengat sinar matahari yang terik.  Kami pun duduk di ceruk di karang yang lumayan besar.
“Ya, apa disini ada tradisi menaruh burung lipat di karang, Eunji-ya?”  tanyaku saat tanpa sengaja melihat burung lipat berwarna biru tua  gemerlap di atas karang.
“Tidak. Kenapa?”
“Lihat.” Aku mengambil burung lipat itu, lalu menunjukkannya pada Eunji.  Kubuka pelan lipatan kertasnya, dan ternyata ada tulisan di dalamnya.
Kubaca surat yang ditulis entah siapa itu.
“Sea?” tanya Eunji setelah aku selesai membacakannya. “Apa maksudnya, Sunri-ya?”
“Dalam bahasa Inggris, ‘Sea’ berarti ‘Laut’. Mungkin dia ingin menunjukkan bahwa dia menyukai pantai ini.”
“Lalu?”
Aku mengangkat bahu.
“Sunri-ya, kenapa tak kau balas saja?”
“Ah, benar juga.” Aku mengeluarkan pulpen dan menyobek selembar kertas dari notes-ku.

***

“Leeteuk-sunbae, Sunbae belum mengambil buku yang ada di ruang klub?” tanya Yesung, adik tingkatku di kampus.
“Ah, mianhe, Yesung-ah. Tunggu pulang nanti kuambil,” jawabku. “Aku  sedang sibuk menyelesaikan tugas kuliahku yang belum selesai  kukerjakan.”
“Oh ya, bagaimana keadaan Donghae-ya?” tanya Yesung, yang memang tahu persis bagaimana keadaan dongsaeng-ku.
“Baik. Akhir-akhir ini dia sibuk membuat burung lipat dari kertas. Katanya mau sampai seribu buah.”
“Heh?” Yesung menatapku bingung. “Dia seperti…”
“Anak-anak?” Aku menyelesaikan ucapan Yesung yang terpotong. Yesung  mengangguk, tersenyum. “Yah, dia memang seperti anak-anak. Mungkin  karena waktu kecil dia tak pernah bisa bebas bermain. Hidupnya kan hanya  berkisar antara rumah, sekolah, dan rumah sakit.”
Yesung mengangguk mengerti.
Tiba-tiba, ponselku berbunyi. Dari Umma.
“Yobseiyo? Umma?”
“Leeteuk-ah, cepat kemari! Donghae sedang tidak baik…” Umma berkata dengan nada panik.
“Mwo?! Kenapa dengannya?”
“Entahlah. Umma juga tidak tahu. Cepat datang, Leeteuk-ah…”
“Iye, Umma. Umma tunggu aku.”
“Ada apa?” tanya Yesung, ketika melihatku panik.
“Donghae. Kata Umma, dia kambuh lagi. Aku mau kesana.”
“Sunbae, aku ikut!”  Yesung mengikutiku. Aku mengambil kunci mobil  dengan panik. Yesung yang khawatir menawarkan agar dia saja yang  menyetir. Aku menyetujuinya. Aku selalu tak bisa konsentrasi jika  menyangkut Donghae.
Kami tiba di rumah sakit duapuluh menit kemudian. Aku langsung menerobos masuk ke kamar Donghae.
“Umma, Donghae kenchana?” tanyaku. Umma duduk di samping ranjang  Donghae, sambil menggenggam tangan Donghae. Sedang Donghae sendiri  tertidur dengan kening dikompres. Aku meraba keningnya. Panas sekali.  “Donghae kenapa, Umma?”
“ Umma juga tak tahu. Tadi pagi saat Umma datang, dia baik-baik saja.  Tapi lama-lama dia bilang kepalanya pusing, dan ternyata badannya panas  sekali. Setelah itu keadaannya makin parah. Tadi dokter sudah  memeriksanya dan memberinya obat penenang,” jelas Umma.
Aku menatap wajah pucat Donghae dengan miris. Kenapa dia? Setahuku kemarin dia baik-baik saja.
“Um…maa…” Donghae terbangun, dipanggilnya Umma dengan suara lirih.
“Donghae-ya, bagaimana perasaanmu? Kenchana yo?” Umma mengelus rambut Donghae.
“Donghae-ya,” panggilku.
“Hyung…syukurlah…syukurlah aku belum mati…” Donghae tersenyum lega.
Umma tersentak kaget. Setitik airmatanya jatuh. Dengan cepat dihapusnya  airmata itu, lalu buru-buru pergi keluar kamar. Aku mengikuti Umma  keluar. “Tolong jaga dia,” pesanku. Yesung mengangguk.
Aku mengikuti Umma yang duduk menangis di depan kamar rawat Donghae.
“Umma,” panggilku.
“Hwe, Leeteuk-ah? Kenapa? Kenapa harus Donghae? Kenapa harus Donghae  kita? Kenapa bukan orang lain? Kenapa bukan Umma saja?” Umma menangis  sesenggukan.
“Umma…”
“Umma tak mau melihatnya kesakitan terus seperti ini. Kenapa Umma tak bisa menggantikannya saja?”
“Umma.” Kupeluk Umma. Bulir-bulir airmataku berjatuhan. “Kalau saja aku  mampu, Umma, andai saja aku mampu, akan kuberikan jantungku untuknya.  Jantung, hati, semuanya. Semua akan kuberikan untuknya, Umma. Tapi tak  ada yang bisa kita lakukan sekarang…”
Umma tak menjawab. Kami; aku, Umma, dan Appa, bukan donor yang cocok  bagi Donghae. Sampai sekarang kami tak bisa menemukan donor jantung yang  cocok untuknya. Kalaupun ada, kata dokter, kemungkinan Donghae bisa  bertahan dengan jantung transplantasi, kecil sekali.
“Otohkke, Leeteuk-ah? Otohkke? Bagaimana ini?” gumam Umma.
Aku tak bisa menjawabnya.

***

“Hyung,” panggilnya lirih.
“Ye, ada apa?” Aku mendekat padanya agar lebih jelas mendengar suaranya.
“Mianhe.”
“Kenapa kau minta maaf?”
“Karena aku…selalu menyusahkan semuanya. Hyung, Umma, Appa, bahkan Yesung-hyung. Mianhe, Hyung…” ucapnya pelan sekali.
“Ani, kau tak perlu minta maaf. Ini bukan salahmu.”
“Hyung…”
“Hem?”
“Kalau aku mati nanti…”
“Kau tidak akan mati!” potongku cepat. Tapi dia mengabaikannya.
“Ka…kalau aku mati…nanti, dan…aku belum selesai membuat seribu burung  lipatku, ma…maukah…maukah Hyung menyelesaikannya untuk…ku?” tanyanya  dengan terbata-bata.
“Tidak! Kau yang harus menyelesaikannya sendiri. Kau tak boleh mati  sebelum menyelesaikannya!” kataku keras. Aku mati-matian berusaha  terlihat tegar.
“Ah, Hyung memang kejam,” ucapnya, lalu tersenyum kecil.
“Tidurlah. Hyung akan menjagamu di sini.”

***

Donghae terbangun dari tidurnya saat  sudah lewat tengah malam. Dilihatnya hyung-nya tertidur di sofa.  Pelan-pelan, dia bangkit dan berjalan tertatih-tatih. Kepalanya masih  sedikit pusing. Tapi demamnya sudah turun. Dia ingin pergi ke pantai  itu. Dia hanya ingin melihat apa ada yang membalas suratnya.
Ketika dia sampai di karang besar itu, hatinya bersorak melihat burung  lipatnya telah berganti dengan burung lipat berwarna putih polos. Itu  artinya, ada yang membalas suratnya.
Dibawanya burung lipat itu kembali ke kamarnya di rumah sakit. Namun, saat dia baru saja masuk, tiba-tiba…
“Ceklek!” Lampu kamarnya menyala dengan terang. “Kemana saja kau?!”  Suara Leeteuk terdengar mengerikan. Donghae hanya terdiam, dia tak  berani menatap hyung-nya itu. “Darimana kau?!” ulang Leeteuk, kali ini  lebih keras.
“Mianhe, Hyung..” ucap Donghae.
“Apa kau tahu ini jam berapa?” Leeteuk nyaris berteriak. “Apa kau tak  pernah berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu? Apa kau ingin cari  penyakit dengan keluar diam-diam, ha?! Kau ini kenapa sih, Lee  Donghae?!”
“Mianhe…” Donghae merasa sangat bersalah telah membuat hyung-nya  khawatir. Selain itu, dia juga takut Leeteuk benar-benar marah padanya.
“Kenapa kau bodoh sekali, sih! Kau tak tahu kan bagaimana paniknya Hyung  saat melihatmu hilang! Kau juga tak tahu kan bahwa Hyung mencarimu di  seluruh bagian rumah sakit ini! Dan ternyata kau malah enak-enakan  kabur! Kau pikir bagaimana perasaan Hyung?!”
“Mianhe, Hyung, mianhe, mianhe…” berulang kali Donghae meminta maaf.  Suaranya bergetar karena menahan tangis. Dia terus menunduk, tak berani  menatap wajah hyung-nya.
Leeteuk yang tak tega melihat dongsaeng-nya, lalu terdiam. Dipeluknya  Donghae layaknya anak kecil. “Mianhe, Donghae-ya, Hyung sudah berteriak  padamu. Hyung hanya… Hyung hanya khawatir. Hyung takut kau pergi dan tak  kembali, Donghae-ya…” Suara Leeteuk melunak. “Jangan melakukannya  lagi.”
“Arasseoh. Mianhe, Hyung.”
“Ye.” Leeteuk menarik Donghae, menyuruhnya kembali ke tempat tidurnya.  “Donghae-ya, apa itu?” tanyanya begitu melihat di tangan Donghae ada  burung lipat tak berwarna. Setahunya, Dongahe tak pernah melipat dengan  kertas polos.
Dengan ringkas, akhirnya Donghae menceritakan semuanya dari awal.  Leeteuk mengangguk mengerti. “Apa di dalam situ juga ada suratnya?”
“Tidak tahu, Hyung.”
“Coba saja buka.”
Donghae pun membuka lipatan kertas itu. Dan ternyata benar, di situ tertulis sesuatu.

Anneyong haseo, Sun imnida.
Salam kenal, namaku Sun. ‘Sun’ untuk ‘matahari’. Karena kata Umma-ku, aku seperti matahari yang menghangatkan.
Oh ya, aku baru saja pindah ke kota ini. Dan ini pertama kalinya aku ke  pantai ini. Ye, Sea-sshi, ini benar-benar tempat yang indah. Aku  menyukainya. Kuharap besok sepulang sekolah aku bisa kembali lagi  kemari, dan mendapati surat balasanmu juga. Ahahaa…
Ah, aku tak punya kertas lipat berwarna, jadi kupakai saja kertas dari  halaman notes-ku. Mianhe, burung lipatmu kuambil ya. Kamsahamnida.
Sun

Leeteuk dan Donghae saling bertatapan selesai membacanya.
“Hyung pikir dia orang yang baik. Balas saja,” ucap Leeteuk.
“Tapi, Hyung, aku kan…”
“Kau tulis saja. Nanti sebelum Hyung berangkat kuliah, Hyung yang akan letakkan suratmu di sana.”
Dongahe tersenyum lebar. “Gumawo, Hyung…”

***

Sepulang sekolah, akhirnya kusempatkan mampir ke pantai itu. Aku penasaran dengan orang yang menulis surat di burung lipat.
Dan benar saja, saat kuhampiri karang itu, di sana sudah terselip burung bangau lipat berwarna biru gemerlap.

Anneyong, Sun-sshi.
Namamu bagus juga. Mungkin kau memang benar-benar orang yang hangat dan menyenangkan. Maukah kau jadi temanku?
Karena jujur saja, aku tak punya banyak teman. Teman baikku selama ini adalah hyung-ku.
Oh ya, kau bilang kau baru pindah kemari. Bagaimana? Kau pasti bisa  mendapatkan banyak teman dengan cepat. Aku juga bukan dari kota ini.  Rumahku ada di kota sebelah. Hanya butuh waktu sekitar satu jam naik  mobil  untuk sampai ke rumahku dari pantai ini.
Ya, Sun-sshi, kau tahu? Mungkin sebaiknya kau beli kertas lipat yang  berwarna saja. Jangan sampai halaman notes-mu habis nantinya. Hahaha…  ^_^
Sea

Sunri tertawa kecil setelah mebacanya.  Menurutnya, Sea juga orang yang baik. Dan satu lagi, dia tak pernah  berniat membeli kertas lipat berwarna. Halaman notes-nya cukup banyak  walau setiap hari diambilnya lembar demi lembar.

***

Anneyong, Sea-sshi.
Yah, memang banyak orang yang bilang aku ini banyak omong dan menyenangkan.
Ye, tentu saja aku mau menjadi temanmu. Memangnya bagimu sesulit itukah  mencari teman? Kau tinggal datang ke sekolah, bertemu teman-temanmu,  bercanda dengan mereka, mengobrol, main bersama. Tak sulit kok mencari  teman. Tapi kurasa Hyung-mu itu sangat baik.
Benar, aku medapatkan banyak teman di sini. Mereka benar-benar baik!
Wah, kalau kau bukan dari kota ini, lantas kenapa setiap hari kau ada di  pantai ini? Jangan bilang kau manusia ikan yang menjelma menjadi  manusia ya!
Hei, kau tahu, aku punya notes yang tebal sekali. Halamannya tak akan habis hanya gara-gara kusobek tiap hari.
Sun

Donghae tertawa lebar setelah membaca  surat balasan dari orang bernama Sun itu. Aku tak pernah meihatnya  tertawa sebahagia itu sejak dia masuk rumah sakit. Sepertinya, aku harus  berterimakasih pada Sun.
“Hyung, lihat, sepertinya dia orang baik, kan?” tanyanya.
“Ya, tentu saja,” jawabku.
Donghae terbatuk beberapa kali. Karena penyakitnya, sekarang fungsi  paru-parunya mulai menurun. Dia sering sesak nafas dan mudah sekali  kelelahan.
“Donghae-ya, nanti saja membalasnyaa. Sekarang kau istirahat saja,” kataku begitu melihatnya mulai menulis.
“Tidak bisa, Hyung. Harus kutulis sekarang. Karena nanti aku harus menyelesaikan burung lipatku. Hyung tidak mau bantu sih!”
Aku terdiam. Tentu saja kau tak mau membantunya! Kalau setelah dia  selesai membuat seribu burung lipat, lalu dia benar-benar pergi  bagaimana? Biar saja dia tetap disini selama mungkin.

***

Sudah sekitar dua minggu lebih aku dan  seorang bernama Sea  itu saling berkirim surat. Aku tak pernah bertemu  dengannya. Tapi bagiku itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah  dia mambalas suratku. Itu saja.
Anehnya, kurasa dia bukan orang yang sulit berteman. Dia baik,  perhatian, suka bercanda, dan kekanakan. Bagaimana mungkin dia tak punya  teman?

Anneyong, Sun-sshi.
Hari ini ulanganmu dibagikan, bukan? Bagaimana hasilnya? Jangan-jangan kau dapat nilai merah? Hahaha, mianhe, hanya bercanda.
Eh, tadi Hyung membelikanku kimchi yang enak sekali. Aku tak tahu dimana  dia membelinya, tapi nanti coba kutanyakan padanya. Kau juga harus  mencobanya! Benar-benar lezat.
Bagaimana kabar dongsaeng-mu yang kau bilang sangat bawel itu? Minjae?  Kurasa kau tahu kenapa dia bawel. Karena dia punya seorang noona seperti  dirimu. Hahaha… ^_^
Sea

Ah, aku berdecak gemas usai membaca suratnya. Tuh kan, dia orang yang hangat dan menyenangkan, bukan?
Entah kenapa, sekarang tiba-tiba kau ingin sekali bertemu dengannya.

***

“Mana?” Aku meminta surat yang sudah  dilipat Donghae menjadi bentuk burung seperti biasanya. Setiap hari,  sebelum dan sepulang dari kampus, pagi dan sore, akulah yang meletakkan  surat-suratnya, juga mengambilkan surat Sun untuknya. Namun kali ini,  Donghae tak memberikan suratnya.
“Ani, antarkan aku kesana, Hyung,” pintanya.
“Mwo?!” Aku terkejut. Kupandangi dia yang menggenggam erat suratnya.
“Selama ini Hyung terus yang kesana. Aku hanya dua kali. Sekarang aku mau meletakkannya sendiri, Hyung. Satu kali ini saja.”
“Kau tak boleh pergi kesana sendirian!”
“Karena itu antarkan aku!” Donghae tetap ngotot.
Kupikir, tak ada gunanya berdebat dengan Donghae yang keras kepala itu.  Aku akhirnya mengalah. Setelah meminta izin dari dokter, kuantar dia ke  pantai itu.
“Gumawo, Hyung,” ucapnya senang.
Sambil mendorong kursi rodanya, aku bernyanyi pelan. Sebentar-sebentar  Donghae ikut bernyanyi, tapi dia lebih banyak tertawa dan mendengarkanku  menyanyi. “Suaramu bagus, Hyung,” pujinya.
Sampai di tepi pantai, aku berhenti mendorong kursi rodanya. “Lihat,  kursi rodamu tak bisa berjalan di atas pasir pantai,” ujarku. Donghae  mendesah kecewa. Akhirnya…
“Kemari,” aku berjongkok di depannya.
“Hyung mau apa?” tanyanya heran.
“Kugendong kau sampai kesana.”
“Tapi…”
“Sudahlah, cepat!” Aku menariknya ke punggungku, lalu aku berdiri. Ya Tuhan, dia ringan sekali!
“Kenapa kau ringan sekali? Berapa sih bobotmu?”
“Mana kutahu!” Donghae menjawab ketus. Aku tertawa. Sudah lama sekali rasanya aku tak menggodanya.
Aku terus menggendongnya sampai ke batu karang besar itu. Kutemukan  burung lipat polos seperti biasa. Donghae mengambilnya, lalu meletakkan  suratnya untuk Sun di tempat yang sama.
Sambil kugendong dalam perjalanan pulang, Donghae membacakan isi surat Sun.

Anneyong, Sea-sshi.
Benarkah seenak itu?  Tanyakan padanya, kumohon… Aku ingin sekali merasakannya.
Ya, tadi  nilai ulanganku dibagi. Enak saja kau kira aku dapat nilai  merah! Walau aku lemah di pelajaran ini, tapi aku sudah berusaha. Tebak  berapa nilaiku? Aku dapat 70! Ah, akhirnya…
Kau tanya kabar Minjae? Ya Tuhan, anak itu benar-benar menyebalkan!  Kemarin malam dia memakan ramen buatanku. Apa katanya? Dia bilang, “Ya,  Noona, aku bisa buat yang lebih enak daripada ini.”
Ah, kalau saja tak ada Umma dan Appa di depanku, sudah kupukul pakai sendok kayu dia!
Ya, apa maksudmu dengan dia bawel karena punya noona sepertiku? Kau mau  mengataiku bawel  juga? Aiissshh…kau juga mulai menyebalkan!
Oh ya, besok aku mulai libur musim panas.
Sun

“Hyung, ini sudah mulai libur musim panas, ya?” tanya Donghae setelah selesai membaca surat Sun.
“Iye. Memangnya kenapa?”
“Ani, hanya saja, sepertinya aku sudah banyak melewatkan pelajaran di sekolah.”
Aku menarik nafas panjang. Merasa kasihan padanya.
“Donghae-ya, kau tak perlu memikirkannya.”
“Hyung,” bisiknya lirih. “Apa aku masih bisa kembali ke sekolah?”
Aku tak langsung menjawabnya. Jawaban apa yang harus kukatakan aku tak tahu. Beberapa menit kemudian…
“Donghae-ya,” panggilku. Dia tak menjawab. Rupanya dia tertidur. “Ya,  Dongahe-ya,” Aku tetap melanjutkan ucapanku. Entah dia mendengar atau  tidak. “Hyung tidak peduli esok mulai libur musim panas atau bukan.  Hyung juga tak peduli seberapa banyak kau melewatkan pelajaran di  sekolah. Yang Hyung inginkan hanyalah kau kembali sembuh. Andai Hyung  bisa, akan Hyung berikan hidup Hyung padamu. Andai saja Hyung mampu,  Donghae-ya…” Perlahan-lahan airmataku menetes. Dadaku sesak hanya dengan  memikirkan dongsaeng-ku. Tapi aku tak menghapus airmataku. Toh Donghae  tak melihatnya.
“Donghae-ya, apapun yang terjadi, jangan menyerah. Jangan tinggalkan Hyung…”

***

Libur musim panas sudah mulai. Hari ini  aku pergi ke rumah sakit yang letaknya tak jauh dari pantai itu. Aku  kesana karena Eunji harus dirawat karena operasi usus buntu.
“Ya, Eunji-ya, kau harus cepat sembuh, lalu temani aku main,” kataku pada Eunji yang sudah mulai pulih itu.
“Baiklah, aku akan menemanimu main sampai kau puas! Tapi aku tak  keberatan jika harus disini agak lama lagi.” Entah kenapa dia terkikik  centil.
“Apa yang kau katakan sih?” tanya Eunmi-unni. Eunmi-unni, kakak Eunji ini, cantik sekali. Yah, tidak heran sih, dia kan model.
“Kau tahu tidak, Sunri-ya, ada orang tampan di sebelah kamarku ini!” Eunji menunjuk ke kamar di sebelah kamar rawatnya.
“Hah? Siapa?” tanyaku.
“Dia keluarga pasien yang dirawat di kamar sebelah,” jawab Eunmi-unni. “Kalau tidak salah namanya Leeteuk.”
“Ya, Unni juga menyukainya, kan? Dia benar-benar tampan dan sangat baik!” Mata Eunji berbinar-binar membayangkannya.
“Baik bagaimana?” tanyaku bingung.
“Beberapa bulan yang lalu Unni bertemu dengan ibu mereka. Beliau bilang,  anaknya bungsunya sudah lama dirawat di sini karena penyakit kelainan  jantung. Dan setiap hari, Leeteuk, kakaknya datang kemari menjaganya.”
Aku mengangguk-angguk mengerti. Benar-benar kakak yang baik. “Kalian pernah bertemu dengannya?”
Eunji mengangguk. “Ye. Beberapa kali dia menggendong dongsaeng-nya itu  dan mengajaknya keluar kamar. Leeteuk benar-benar memanjakan  dongsaeng-nya.”
Lalu, Eunji dengan semangat membara membicarakan orang bernama Leeteuk  itu. Beberapa kali kami tertawa terkikik mendengar lelucon Eunji.

***

“Aiissshh…bisakah mereka tidak mengikik seperti itu?” Leeteuk sedikit merasa berisik dengan suara di sebelah kamar Donghae.
“Sudahlah, Hyung, tak apa,” jawab Donghae, sambil melipat kertasnya. “Toh aku tidak sedang istirahat kok.”
Leeteuk hanya mengangkat bahu. Diambilnya satu bantal dari sofa, lalu  ditaruhnya di belakang punggung Donghae agar Donghae bisa bersandar  dengan lebih nyaman.
“Gumawo, Hyung,” ucapnya.
“Donghae-ya, bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini?” tanya Leeteuk.
“Baik.”
“Maksud Hyung, kesehatanmu itu.”
“Hyung ingin aku jawab jujur atau bohong?”
“Tentu saja jujur!”
“Kurasa aku akan segera mati.” Donghae mengatakannya dengan wajah santai  tanpa ekspresi. Leeteuk terperangah. “Hwe? Hyung bilang ingin aku jawab  jujur kan?!”
Leeteuk tak menjawab. Ditatapnya wajah dongsaeng-nya yang makin hari  makin pucat itu. Donghae juga tak seceria dulu. Dia mudah sekali  kelelahan. Dan penyakitnya kambuh lebih sering daripada dulu.
“Hyung, aku ingin bertemu dengan Sun,” ucap Donghae tiba-tiba.
“Apa?!”
“Menurut Hyung, apa aku bisa bertemu dengannya?”
“Tentu saja! Kenapa tidak?!”
Donghae tersenyum. Walau ia tahu, hyung-nya berkata begitu hanya untuk menyenangkan hatinya.
Lalu terdengar suara berisik dari depan kamar Donghae.
“Ya, Sunri-ya, sering-sering datang kemari. Biar Eunji ada temannya.”
“Iye, Unni. Besok aku akan datang lagi. Bye.”
“Gumawo. Hati-hati di jalan.”
Donghae dan Leeteuk mendengar jelas pembicaraan mereka pintu kamar  Donghae terbuka. Tampak seorang gadis dengan rambut sebahu berjalan  melewati kamar Donghae.
“Hyung! Dia Sun!!!” Tiba-tiba Donghae berteriak. Leeteuk kaget.  Decekalnya bahu Donghae karena dongsaeng-nya itu hendak turun dari  ranjang.
“Hyung! Dia Sun! Aku akan mengejarnya! Lepaskan aku!”
“Tidak! Kau tetap di sini! Hyung yang akan kesana!”
“Aniiii! Lepaskan aku!”
Entah kekuatan darimana, Donghae akhirnya bisa lepas dari cekalan tangan Leeteuk. Dia berlari ke arah pintu dan keluar.
“DONGHAE-YA!!!” teriak Leeteuk. Dikejarnya Donghae.
Donghae berlari di sepanjang lorong rumah sakit. Berkali-kali  dipanggilnya gadis yang tadi dilihatnya. Namun sepertinya gadis itu tak  mendengar.
Leeteuk berlari di belakang Donghae. Dipanggilnya Donghae agar berhenti.
Beberap detik kemudian, tiba-tiba dilihatnya Donghae ambruk. “Donghae-ya!” Dengan cepat Leeteuk meraih tubuh Donghae.
“Hyung…sa…sakit…Hyung…” Donghae merintih pelan, memegangi dadanya.
“Donghae-ya! Bertahanlah!” Leeteuk benar-benar bingung, tak tahu harus  bagaimana. Tanpa sengaja dilihatnya gadis yang tadi dikejar  dongsaeng-nya hampir sampai di pintu keluar. Dan tiba-tiba dia  berteriak, “SUN-SSHI!!!” keras sekali. Dia tak melihat lagi apakah gadis  itu menolah atau tidak. Cepat-cepat dibopongnya Donghae dan dibawanya  kembali ke kamar.

***

Aku hampir saja melangkah keluar ketika  kudengar seseorang berteriak. Aku menoleh. Sekitar 15 meter di  belakangku tampak seorang laki-laki berusaha membopong seorang pasien.  Wajahnya luar biasa cemas.
Dia berlari sambil membopong pasien yang sepertinya kesakitan itu  kembali, di belakangnya seorang dokter dan beberapa perawat  mengikutinya.
Entah kenapa, aku tertarik untuk mengikutinya.
Ternyata kamar yang ditujunya persis di sebelah kamar Eunji! Apa  jangan-jangan dia yang tadi dibicarakan oleh Eunji dan Eunmi-unni?
Aku menunggu di depan kamarnya. Di dalam terdengar agar ribut. Laki-laki  yang tadi membopong pasien kudengar berkali-kali berkata, “Donghae-ya,  bertahanlah! Kumohon bertahanlah!”
Sekitar sepuluh menit kemudian, dokter dan para perawat keluar. Lalu,  tak lama kemudian, laki-laki (yang sepertinya bernama Leeteuk) juga  keluar. Wajahnya terlihat terkejut ketika melihatku.
“Ah, mianhe,” ucapku, buru-buru membungkuk. “Kudengar Anda tadi berteriak.”
Dia juga membungkuk. “Ah, ya, aku memanggilmu.”
“Mwo? Memanggilku?” tanyaku bingung.
“Apakah kau Sun?” dia ganti bertanya.
“Ehm, namaku Kim Sunri. Anneyong haseo.”
“Anneyong haseo, aku Leeteuk. Panggil saja aku Leeteuk-oppa.”
Tuh kan, benar, dia orang yang tadi dibicarakan oleh Eunji!
“Maaf, apakah kau orang yang berkirim surat dengan dongsaeng-ku? Yang  selalu melipat suratnya menjadi burung bangau lipat, dan meletakkannya  di atas karangt di pantai itu.”
Aku kaget. Leeteuk-oppa mengatakannya dengan lancar. Bagaimana dia bisa tahu?
“Iye,” jawabku bingung. “Aku Sun.”
“Oh, syukurlah.” Wajah Leeteuk-oppa tampak sangat lega. “Kemarilah.” Dia mengajakku masuk ke kamar rawat pasien tadi.
Kulihat, di ranjang itu, seorang laki-laki yang usianya kira-kira sama  sepertiku, terbaring dengan infus di punggung tangan kanannya, dan alat  bantu pernafasan. Wajahnya, walau kuakui tampan, sangat pucat. Dan  tubuhnya kurus sekali.
“Dia Donghae, dongsaeng-ku. Dia lah yang berkirim surat denganmu,” jelas Leeteuk-oppa.
Aku melongo. Memandangnya tak percaya.
Jadi ini alasannya dia ada di kota ini padahal rumahnya ada di kota  sebelah? Ini alasannya dia tak lagi bisa berenang, ke sekolah, dan tak  punya teman? Aku hampir tak percaya.
“Sejak kecil,” lanjut Leeteuk-oppa. “dia mengidap kelainan jantung.   Kami berusaha menyembuhkannya, tapi sepertinya tak begitu berhasil.  Sejak empat bulan yang lalu dia tak lagi masuk sekolah karena dirawat di  sini…”
“Empat bulan?!” tanyaku, terkejut (lagi). Leeteuk-oppa mengangguk, tersenyum getir.
“Entah apa yang membuatnya bertahan selama itu. Sejak pertama di rawat  disini, dokter bilang dia hanya punya waktu maksimal dua bulan. Tapi  mungkin semangat hidupnya jauh lebih tinggi.”
“Apa dia bisa sembuh?” tanyaku. Pertanyaan bodoh.
“Itu harapan kami,” jawab Leeteuk-oppa. “Seandainya bisa.”
Aku menatap Leeteuk-oppa, kasihan. Mataku terasa panas. Aku berusaha menahan tangis. Aku memang cengeng sekali.
“Sunri-sshi, kamsahamnida.”
“Hwe? Untuk apa, Oppa?”
“Karena kau telah menjadi teman Donghae selama ini. Surat-suratmu sangat berarti baginya.”
Aku mengangguk. Begitu juga dengan surat-suratnya, sangat berarti untukku.

***

“Hyung…” Donghae memanggilku dengan suara lirih. Akhirnya, setelah 3 jam, dia siuman.
“Donghae-ya,” sahutku, mendekat. Kugenggam tangannya. Panas sekali. “Bagaimana perasaanmu?”
Donghae mengangguk pelan. “Mianhe…”
“Tak apa. Oh ya, lihat siapa yang ada di sini,” kataku, sambil melirik  pada Sunri yang berdiri di sampingku. Sedari tadi dia ikut menunggu  sampai Donghae siuman.
Donghae memandang Sunri, terkejut. “Hyung, dia…”
“Anneyong haseo, aku Sun. Tapi sekarang kau boleh panggil aku Sunri,” ucap Sunri, tersenyum.
Donghae mengangguk sambil tersenyum cerah sekali. “Anneyong haseo, Sea imnida. Sekarang kau juga boleh memanggilku Donghae.”
Aku tersenyum kecil. Hebat juga feeling Donghae. Tadi dia langsung  berteriak dan mengatakan bahwa gadis yang dilihatnya adalah Sun, padahal  mereka belum pernah bertemu.

***

Sejak hari itu, setiap hari Sunri selalu  datang menjenguk Donghae. Awalnya, dia bolak-balik dari kamar Eunji dan  kamar Donghae. Namun, setelah Eunji keluar dari rumah sakit, Sunri  hanya datang untuk menjenguk Donghae. Dia menghabiskan waktu di libur  musim panasnya di rumah sakit menemani Donghae.
“Kenapa PRnya susah sekali sih?!” keluh Sunri, sambil menggigiti ujung  pulpennya. Dia duduk di samping ranjang Donghae. Sedang Donghae sendiri,  seperti biasanya, sibuk melipat burung-burungannya.
“Sampai kapan kau mau mengeluh terus sih? Cepat kerjakan saja,” ucap Donghae cuek.
“Siapa yang mengeluh? Soal-soal ini memang susah sekali, tahu!  Aissh…kenapa Kangin-songsaenim memberikan soal yang mustahil dikerjakan  begini, sih?!” Sunri mendengus kesal.
“Coba kulihat.” Donghae mengambil buku dan pulpen Sunri, lalu mulai  dikerjakannya PR Sunri. Belum sampai 2 menit, buku itu sudah diserahkan  kembali pada Sunri.
Sunri memandangi hasil pekerjaan Donghae dengan takjub. Matanya  terbelalak, dan mulutnya melongo membentuk huruf O bulat. “Donghae-ya,  bukankah kau setingkat denganku? Kenapa kau bisa mengerjakannya dalam 2  menit? Sedangkan aku sampai berminggu-minggu tak bisa menyelesaikannya!”
“Jangan heran. Donghae murid terpintar di angkatannya.” Leeteuk, yang  sedari tadi sibuk mengetik di depan laptopnya, angkat bicara.
“MWO???!!!” Sunri berteriak terkejut. Donghae hanya tersenyum misterius. “Lalu kenapa wajahmu tak menyiratkan bahwa kau pandai?”
“BLETAKK!!!”
Donghae melempar pulpen tepat ke kepala Sunri. “Enak saja kau bicara!”
Sunri tertawa jahil. “Gumawo,” ucapnya.
“Sunri-ya,” panggil Donghae.
“Ye?”
“Apa cita-citamu?”
Sunri terdiam sejenak. “Menjadi arsitek.”
“Kenapa?”
“Karena ayahku seorang arsitek.”
“Hah?!” Donghae menatap Sunri heran. “Itu bukan alasan!”
“Itu alasanku!” kata Sunri. “Aku ingin menjadi arrsitek karena kata Appa aku bisa menjadi arsitek.”
“Berarti itu bukan cita-cita dari dalam hatimu sendiri!” balas Donghae.
“Memangnya kenapa?” Sunri sewot. “Kau sendiri, apa cita-citamu?”
“Aku ingin menjadi dokter.”
Sekarang ganti Sunri yang heran. “Kau? Serius? Apa kau punya alasan bagus?”
“Tentu saja! Aku ingin menyembuhkan orang-orang yang sakit agar tak menderita sepertiku.” Donghae menjawab dengan mantap.
Sunri terdiam. Leeteuk yang sedari tadi sibuk mengetik, menghentikan  pekerjaannya. Dipandangnya dongsaeng-nya itu. Baru sekali ini dia  mendengar apa cita-cita Donghae.
“Tapi sepertinya cita-citaku itu tak akan tercapai,” gumam Donghae.
“Kenapa?” tanya Sunri lugu.
“Karena aku tak punya cukup waktu untuk mewujudkannya.”

***

Beberapa hari kemudian, ketika Sunri sudah pulang ke rumahnya…
“Hyung, tolong bantu aku,” pinta Donghae lirih. Leeteuk dengan sigap  mendekati dongsaeng-nya yang makin hari makin lemah itu. Diambilnya  sebuah burung lipat dari tangan Donghae, lalu diletakkannya di dalam  kotak kayu berukuran sedang yang berisi ratusan burung bangau lipat  berwarna biru tua gemerlap itu.
“Gumawo, Hyung,” ucap Donghae ketika Leeteuk memberinya kertas untuk dilipat lagi. “Hyung, aku sudah hampir menyelesaikannya.”
“Benarkah?” tanya Leeteuk. Donghae mengangguk. Leeteuk mengelus rambut  Donghae dengan penuh kasih sayang. Walau Donghae masih bisa bertahan,  bukan berarti keadaannya makin membaik.
“Hyung, apa Hyung percaya keajaiban?” tanya Donghae tiba-tiba. Dia  memandang keluar ke arah pantai lewat jendela di samping ranjangnya.
“Keajaiban? Entahlah. Hyung tak begitu mengerti tentang keajaiban,” jawab Leeteuk.
“Aku juga tak percaya bahwa keajaiban itu ada. Tapi…”
“Tapi?”
“Kurasa aku mengharapkannya, Hyung.” Donghae menunduk.
“Donghae-ya…”
Tiba-tiba Donghae terisak. Dia menangis sesenggukan. Ditutupinya  wajahnya dengan kedua tangannya. Airmatanya mengalir deras di antara  sela-sela jarinya.
“Ba…bagaimana ini…Hyung? Aku tak ingin mati… Aku benar-benar tak ingin  mati… Aku ingin hidup lebih lama lagi. Bagaimana ini, Hyung? Bagaimana  ini…?” ucapnya parau diantara tangisnya.
Leeteuk memandangnya pilu. Tak kuasa dilihatnya dongsaeng-nya seperti  itu. Dipeluknya tubuh Donghae erat-erat. “Tidak. Kau tak akan mati  secepat itu, Donghae-ya. Tidak akan! Kau akan sembuh. Kau akan hidup,  punya pacar, menyelesaikan sekolah, menjadi dokter, menikah, mempunyai  anak, dan kau akan mati ketika kau sudah punya cucu. Kau akan bertahan,  Donghae-ku sayang…”
Leeteuk tak kuasa menyelesaikan ucapannya. Dia menangis sedih.

***

Aku sudah tertidur lelap ketika ponselku  berbunyi. Kubuka mataku dengan berat. Jam di meja samping ranjangku  menunjukkan pukul 2 dini hari. Hebat… Siapa sih yang menelepon tengah  malam begini?
“Yobseiyo,” sapaku malas.
“Sunri-ya, ini Leeteuk…” jawab seseorang. Mataku langsung terbuka lebar.  Kantukku hilang dalam sekejap. “Mianhe meneleponmu tengah malam begini,  tapi apakah kau bisa datang ke rumah sakit sekarang?”
“Hwe?! Ada apa dengan Donghae?!” Tiba-tiba aku panik. Yang ada di pikiranku saat ini hanya Donghae.
“Dia koma.”

***

Sunri berlari secepat dia bisa di lorong  rumah sakit yang sepi. Leeteuk bilang dia ada di ICU. Dia cemas luar  biasa. Butuh waktu lebih lama untuk bisa menemukan dimana ICU, karena  otak dan kakinya tak bisa diajak berkompromi.
“Anneyong, Leeteuk-oppa, bagaimana keadaan Donghae?” tanyanya dengan  nafas terengah-engah ketika sudah ditemukannya ruangan itu. Tampak  Leeteuk, Umma dan Appa Donghae, menunggu di luar dengan wajah penuh  kekhawatiran.
“Kemarilah.” Leeteuk membimbing Sunri agak menjauh. Setelah agak jauh, disuruhnya Sunri duduk.
“Bagaimana Donghae, Oppa?” tanya Sunri tak sabar.
“Tenanglah dulu.”
Sunri menggeleng. Dia tak bisa tenang sekarang, di saat seperti ini.
“Donghae…kritis.” Leeteuk menjawab singkat. Wajahnya pias.
“Hwe? Kenapa bisa begitu? Bukankah dia akan sembuh? Bukankah selama ini  dia bertahan cukup lama? Dia akan sembuh kan, Oppa? Donghae akan sembuh  kan?!” Sunri bertanya kalap. Tanpa disadarinya, airmatanya mengalir  deras.
Leeteuk menatapnya galau. “Sunri-sshi, tenanglah… Donghae sedang berjuang di sana.”
“Tidak! Tidak!” Sunri menggeleng. “Aku akan kesana! Aku akan menyuruhnya  bangun! Akan kupukul dia kalau dia masih begitu! Dia harus bangun!  Donghae tak boleh mati!” Sunri bangkit,  tapi dengan cepat Leeteuk  menarik tubuhnya, dipeluknya Sunri agar tenang.
“Lepaskan aku, Oppa! Lepaskan…!!!”
“Sunri-sshi, tenanglah, kumohon tenanglah…” Leeteuk berkata lirih. Hatinya juga sedang kacau sekarang.
Sunri terdiam. Namun detik berikutnya, dia menangis keras di pelukan  Leeteuk. “Katakan dia akan sembuh, Oppa…kumohon…katakan Donghae akan  sembuh…”

***

Pukul satu siang…
Akhirnya kami diperbolehkan untuk masuk ke ruangan Donghae. Sejak tengah  malam tadi, aku, Leeteuk-oppa, Ahjumma, dan Ahjussi menunggu di depan  ruang ICU. Dokter hanya berkata bahwa kami harus siap menerima kabar  terburuk sekalipun.
Aku sudah tak menangis. Leeteuk-oppa berhasil menenangkanku. Lagipula, Donghae tak akan senang melihatku menangis.
Aku dan Leeteuk-oppa mempersilahkan Ahjumma dan Ahjussi masuk lebih  dahulu. Tak berapa lama, mereka keluar karena Ahjumma menangis terus.
Ketika aku masuk, kudapati Donghae terbaring tak berdaya di ranjangnya.  Mesin pendeteksi detak jantungnya masih berbunyi, meski amat lemah. Aku  memandang tubuh Donghae yang dipasangi berbagai alat-alat medis guna  mempertahankan hidupnya. Walau dibalik masker oksigen, aku masih bisa  mengenali wajahnya yang pucat namun tampan. Miris sekali aku melihatnya.
Aku duduk di sampingnya. Kuelus punggung tangan Donghae. Aku hanya diam. Selama satu jam, kami hanya diam memandangnya.
Akhirnya, kuputuskan satu hal. Aku tahu apa yang harus aku lakukan.  Kudekatkan wajahku ke telinganya, lalu berbisik. “Jangan pergi sebelum  menemuiku. Donghae-ya, kutunggu kau di pantai itu.”
Setelah mengatakannya, kukecup kening Donghae. Lalu aku berpamitan pada Leeteuk yang menatapku heran bercampur bingung.

***

Sunri pergi setelah membisikkan sesuatu pada Donghae. Entah apa yang dikatakannya. Aku memandangnya heran.
Setelah ia pergi, aku duduk di samping Dongahe. Kuelus rambutnya, dan kuciumi tangannya. Tangan yang terasa dingin sekali.
“Donghae-ya,” panggilku, lirih. “Hyung memang tak pernah merasakan  penderitaanmu. Hyung juga tak pernah bisa mengurangi rasa sakitmu. Hyung  benar-benar tak berguna, kan?”
Tak ada jawaban. Donghae tetap tertidur.
“Maafkan Hyung, Donghae-ya… Maafkan Hyung yang tak pernah bisa berbuat apa-apa untukmu…”
Kuremas tangannya. Airmataku jatuh di atas jemarinya. Ketika kuhapus  airmataku, entah kenapa aku malah menangis makin keras. Kubekap mulutmu  sendiri agar suara tangisku tak terdengar. Namun percuma. Akhirnya aku  menyerah. Aku menangis sesenggukan di sampingnya.
Entah sudah berapa lama aku menangis, ketika kurasakan jemari Donghae  bergerak. Aku terkesiap. Kupandangi wajahnya. “Donghae-ya,” panggilku.  Kuelus pipinya.
“Hyuu…ng…” erangnya. Matanya mengerjap lemah.
Refleks, aku menekan tombol darurat di samping ranjangnya. Dalam beberapa detik, Umma, Appa, dokter dan beberapa perawat datang.
Ketika dokter hendak menyentuhnya untuk diperiksa, Donghae menepis tangan dokter itu. Kami semua menatapnya bingung.
“Tolong…lepaskan alat-alat ini…kumohon…” pintanya. Kami semua terbelalak. “Kumohon…aku ingin pergi…”
Dokter menatap Umma dan Appa. Dengan berat hati, mereka mengangguk  setuju. Kami semua tahu, ini bisa jadi permintaan terakhir Donghae.
Lalu, dokter dan perawat pun melepas semua alat medis dari tubuh Donghae.
“Hyung…bawa aku ke..pantai…” ucapnya padaku. Aku mengangguk. Ketika Appa  hendak memindahkan tubuh Donghae ke atas kursi roda, aku mencegahnya.  “Biar kugendong dia,” kataku. Appa mengangguk. Kubantu ia bangun, lalu  kugendong di punggungku. Kurasa badannya semakin ringan saja.
Kepala Donghae terkulai lemas di pundakku. Umma dan Appa bergantian  mencium kening dan pipi Donghae. Seolah itu ucapan selamat tinggal.
“Gumawo, Umma, Appa… Aku menyayangi kalian…” katanya, pelan.
Aku berjalan keluar dari ruang ICU.
“Donghae-ya, kau bertambah berat saja sekarang,” kataku, berusaha bercanda. Tapi nadaku terdengar getir.
“Benarkah itu, Hyung? Apa itu artinya aku akan segera sembuh?” balas Donghae, lalu tertawa kecil.
“Ya, tentu saja!”
Kami keluar dari rumah sakit, menuju ke pantai. Rupanya hari mulai senja.
“Hyung,” panggilnya.
“Ye?”
“Gumawo, Hyung…”
“Anii… Hyung tak pernah melakukan sesuatu untukmu…”
“Tidak. Hyung selalu melakukan yang terbaik. Hyung adalah Hyung terhebat  yang pernah kumiliki.” Donghae terkekeh. Rasanya bahagia sekali  mendengar tawanya seperti ini.
“Benarkah? Baiklah, kalau begitu, kau adalah dongsaeng-ku yang paling Hyung sayangi di seluruh muka bumi ini!”
Donghae tertawa lagi. “Aku beruntung memiliki seseorang seperti Hyung.”  Donghae terdiam sejenak. Lalu katanya, “Hyung, apa aku boleh menyerah  sekarang?”
Dadaku serasa dipukul keras demi mendengarnya berkata begitu. Tapi aku tahu, aku harus mengatakannya.
“Kalau kau memang sudah terlalu lelah berjuang, kau boleh menyerah sekarang, Donghae-ya.”
“Gumawo, Hyung, untuk segalanya…” Kurasakan Donghae yang tersenyum  tenang.
Aku berjalan terus ke arah karang yang biasa kami pakai sebagai tempat  berkirim surat dulu. Dan ternyata, Sunri sudah menunggu di sana!
“Ah, ternyata Sunri sudah menungguku…” gumam Donghae.
Aku terhenyak. Jadi, apa ini yang tadi dibisikkannya pada Donghae? Dan  Donghae terbangun untuk menemui Sunri? Aku tersenyum kecil. Rupanya  begitu.

***

Dengan hati-hati Leeteuk-oppa membantu  Donghae duduk di sampingku. Kusandarkan ia di pundakku. Lalu,  Leeteuk-oppa pun meninggalkan kami.
“Sunri-ya,” panggilnya.
“Ye, Donghae-ya?” sahutku. Aku berusaha setenang mungkin. Walau semua  perasaan berkecamuk dalam dadaku, namun aku tak mungkin histeris, kan?!  Aku ingin membuatnya bahagia sekarang. Walau hanya sebentar.
“Mungkin ini agak terlambat, tapi… aku ingin mengatakan satu hal.”
“Baiklah, katakan saja.”
Donghae menarik nafas panjang, lalu katanya, “Saranghaeyo.”
Aku tersenyum. “Aku tahu.”
“Kau tahu?
“Ya. Tentu saja. Karena aku juga mencintaimu.”
“Ah, begitu. Arasseoh. Gumawo, Sunri-ya.”
Kurasakan Donghae yang tersenyum.
“Dan mianhe…maafkan aku. Aku mungkin tak bisa menemanimu lagi. Maafkan aku, Sunri-ya…”
Aku mengangguk. Tangisku hampir tak bisa kubendung lagi. Tapi aku tetap  menahannya mati-matian. Jadi aku tak menjawabnya. Kubiarkan saja ia  terus berkata-kata. Aku ingin mendengarnya bicara lebih lama lagi.
“Aku harus berterimakasih pada Tuhan karena telah mempertemukanku denganmu. Aku benar-benar bahagia. Tapi, aku juga minta maaf…”
“Ani. Kau tak perlu minta maaf.” Akhirnya kutemukan suaraku.  “Karena…karena hanya dengan keberadaanmu saja cukup untuk membuatku  bahagia…”
“Kalau begitu, maukah kau berjanji satu hal padaku?” pintanya.
“Ye.”
“Berjanjilah, kau harus menjadi orang paling bahagia di muka bumi ini.  Berjanjilah untuk tidak pernah menyerah, seberapapun tak berdayanya  dirimu. Berjanjilah padaku, Sunri-ya.”
“Ya, aku berjanji.”
Donghae terdiam sejenak, lalu dia berkata dengan suara lirih. “Gomawo, Sun…”
Aku menarik nafas berat. “Donghae-ya,” panggilku. Dia tak menyahut.  “Donghae-ya!” ulangku. Kuraih kepalanya yang terkulai di bahuku,  kupandang wajahnya. Matanya terpejam, namun bibirnya membentuk seulas  senyum damai. “Donghae-ya!!!” Kutepuk-tepuk pipinya. Suaraku mulai  bergetar.
Dia telah pergi.
Donghae benar-benar telah pergi.
Ini tidak mungkin, kan? Kuharap aku hanya bermimpi. Namun tubuh Donghae terlalu nyata.
Tangisku meledak. Kupeluk tubuh Donghae yang sudah tak bernyawa itu. Aku menangis keras sekali.
Kumohon, untuk sekali ini saja… ijinkan aku menangis. Aku berjanji, ini  yang terakhir. Namun, sekarang, hanya untuk saat ini, kumohon ijinkan  aku menangisi kepergianmu…

***

Upacara kematian Donghae telah selesai.
Dan aku, aku masih bingung apa yang harus kulakukan setelah dia pergi.
Tak ada lagi candaannya di pagi hari, mengatakan, “Hyung, cepat bangun! Matahari sudah menunggumu!”
Tak ada lagi seseorang yang bisa kugoda, lalu merengut dan merajuk, “Hyung, kenapa Hyung kejam sekali?”
Tak ada lagi Donghae-ku.
Aku menghapus airmataku. Sekarang aku berada di kamar Donghae.
Kuambil kotak kayu berisi burung-burung lipat miliknya. Donghae telah menyelesaikannya. Tepat 1000 buah burung bangau lipat.
Kubuka kotak itu. Banyak sekali burung lipat berwarna biru gemerlap. Ada  beberapa yang berwarna putih polos. Itu surat-surat Sunri dulu. Namun,  ada satu buah yang berwarna kuning emas. Hanya satu. Setahuku, aku tak  pernah melihat Donghae melipatnya.
Akhirnya, kubuka lipatan kertas itu. Di situ tertulis sebuah surat. Tulisan tangan Donghae. Kubaca surat itu.

Hyung,
Aku tahu Hyung akan menemukan suratku ini. Kupikir, ini surat terakhir  yang bisa kutulis. Jadi, ketika Hyung membacanya, mungkin aku sudah  tiada.
Leeteuk-hyung yang paling kusayang, apa Hyung tahu bahwa aku adalah  orang paling beruntung? Aku memiliki keluarga yang luar biasa. Umma,  Appa, dan Hyung  yang baik dan begitu menyayangiku. Sayangnya, Tuhan tak  memberiku cukup waktu yang lama untuk berada di sini. Namun aku tetap  bersyukur.
Hyung, apa Hyung ingat, saat kita bertengkar hebat 3 tahun lalu? Aku  betul-betul marah pada Hyung, dan kurasa Hyung juga begitu. Namun, saat  di sekolah, penyakitku kambuh. Dan Hyung yang mendengar kabar itu  langsung datang ke sekolahku. Padahal saat itu Hyung sedang ujian. Hyung  menggendongku dan membawaku ke rumah sakit. Waktu itu, Hyung menangis,  kan? Hyung menangis sambil berkali-kali berteriak minta maaf. Aku  mendengarnya, Hyung, dan aku benar-benar terharu.
Hyung, aku ikhlas menerima keadaanku. Aku rela jika sewaktu-waktu Tuhan  mencabut nyawaku. Tapi, kemudian Sunri hadir. Saat itulah, untuk pertama  kalinya dalam hidupku, aku merasa Tuhan tidak adil. Hyung ingat ketika  aku berkata bahwa aku mengharapkan keajaiban? Saat itu, aku benar-benar  mengharapkannya, Hyung. Aku ingin hidup.
Namun, sekarang, setelah kupikir-pikir, ternyata aku betul-betul egois ya. Aku ingin sembuh agar bisa memiliki Sunri.
Jadi, aku kembali. Aku kembali pasrah menerima takdir. Tuhan telah  begitu baik karena mempertemukanku dengannya. Apa lagi yang bisa  kuharapkan?
Sekarang, aku tahu apa yang akan terjadi padaku. Jadi, kumohon tolong Hyung sampaikan pada mereka.
Tolong katakan pada Umma dan Appa, aku beruntung menjadi anak meraka.  Aku benar-benar menyayangi mereka. Kuharap Umma berhenti menangisiku.
Juga tolong katakan pada Sunri untuk tidak menangis lagi. Aku akan  mencoba mengatakan perasaanku padanya secara langsung. Oh ya, dan dia  juga harus memikirkan kembali apa cita-citanya.
Dan terakhir, untuk Hyung. Aku mungkin telah mengatakannya jutaan kali.  Hyung adalah Hyung terbaik di jagat raya ini. Aku menyayangi Hyung lebih  dari yang Hyung tahu.
Ketika aku di surga nanti, aku akan meminta pada Tuhan untuk selalu memberi kalian kebahagiaan. ^_^
Donghae

***

Seorang gadis berjalan pelan di atas  pasir pantai. Dia menuju ke sebuah batu karang besar. Disentuhnya batu  karang itu. Dia tersenyum. Lalu, diletakkannya sebuah burung lipat  berwarna putih polos di sebuah ceruk di karang itu. Dia tersenyum lagi,  seraya memandang laut.

Anneyong, Donghae-ya.
Bagaimana kabarmu di surga? Apa kau bahagia? Apa kau bisa melihatku sekarang?
Ah, ternyata sudah 2 tahun berlalu sejak kepergianmu.
Ketika aku sangat merindukanmu, aku selalu datang ke pantai ini. Dan  begitu melihat laut, aku merasa seolah-olah kau berdiri di sampingku,  Donghae-ya.
Kau tahu? Leeteuk-oppa sudah lulus kuliah. Dia sudah bekerja, dan sudah  menikah. Tebak dengan siapa? Dengan Eunmi-unni, kakak Eunji itu. Ya,  kakak iparmu itu betul-betul cantik! Dan anak mereka baru saja lahir.  Leeteuk-oppa menamainya Donghae. Sama sepertimu. Dan entah bagaimana,  wajahnya memang mirip sekali denganmu.
Kata Leeteuk-oppa, dia berharap Donghae kecilnya akan benar-benar mirip  denganmu. Tampan, baik, pandai, tulus, dan menjadi seorang yang tidak  mudah putus asa. Walau kau agak kekanakan, sih. Hehehe…
Ah, andai saja kau bisa melihatnya, dia benar-benar menggemaskan!
Oh ya, Umma dan Appa-mu baik-baik saja. Sekarang mereka ikut disibukkan mengurus Donghae kecil.
Dan aku, kau lihat aku sekarang, Donghae-ya? Aku masuk fakultas  kedokteran! Kau benar. Aku memikirkan kembali apa cita-citaku. Dan  sepertinya, aku ingin menyembuhkan orang lain. Aku juga ingin menebus  apa yang dulu tak bisa kulakukan padamu ketika kau sakit dulu. Lebih  dari itu, aku ingin meneruskan cita-citamu.
Cita-cita seorang yang sangat kucintai.
Kau sudah tahu bahwa aku mencintaimu. Walau kita tak pernah bisa bersama lagi, aku tetap mencintaimu.
Ah, aku juga ingin berterimakasih atas segala yang telah kau lakukan untukku. Gumawo, Donghae-ya…
Saranghaeyo.

PS. Kurasa permintaanmu dikabulkan oleh  Tuhan. Kami di sini benar-benar bahagia. Dan aku, kutepati janjiku  padamu, aku menjadi orang paling bahagia di dunia ini.
Sunri

-END-

note : Baca nih ff udah berapa kali yaah? *inget inget #nggatau yg saya inget baca nih ff mesti nyesek!!! Nav eonni makasih banyak yaaaa udah buat cerita yang sebagus ini, chu author~~

 

About mandafishy

Iam just me! Nothing more nothing less and im not pretty but im the best :D Called me just MISS. SIMPLE

Posted on June 16, 2011, in Imagination and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

I will appreciate you more if you'll give a comment, thanks: D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: