[Fanfiction] The Baloon

Title : The Baloon

Author : Amanda Lia Arselia

Cover Credit : google -whoguides.com-

Disclaimer :I only own the plot, the characters are all belong to themselves, do not take it out without permission. Written to meet the structured task subjects Indonesian language and literature.

***

Pagi ini mentari datang sembari dengan silauan-silauan indahnya. Hembusan angin pun serasa berbisik lembut padaku. Tapi hatiku tak secerah pagi ini. Kini ku rasa hembusan angin yang datang seakan mengikis relung hatiku. Dengan mengenakan pakaian hitam berkabung ini kuteteskan air mata. Berkali-kali kubasuh wajah ini. Namun, tetap saja tetesan air ini jatuh mengusap pipiku.

Kini hanya ada tangis dan sesal. Kau pergi tinggalkanku. Kau pergi untuk selamanya dengan tinggalkan sebuah kata yang penuh makna bagiku.Tak kuasa ku lihat namamu di atas batu nisan ini. Seakan aku tak ingin pergi dari pusara makam ini. Kini aku hanya bisa mengenangmu dengan bayang-bayang senyuman. Tapi kucoba untuk tegar walau kini kau tiada. Akan aku ingat selalu senyuman itu. Kini aku tahu, setiap pertemuan adalah makna.

***

Pagi ini aku terbangun dari mimpiku. Mimpi yang terindah dari beribu-ribu bayangan semu. Yah maklumlah, baru malam tadi aku memimpikan sahabatku. Sahabat kecilku. Aku melihatnya tersenyum dengan menyanyikan lagu “Balon Udara”, lagu yang pertama kali kita nyanyikan bersama. Dia serasa memanggilku. Kemudian dia berlari mengejarku seraya berbisik, tolong maafkan aku. Namun, aku hanya terdiam dan bangun dari mimpi yang penuh tanda tanya ini. Entahlah apa arti mimpi itu. Yang jelas aku merindukannya, Aiden sahabatku dari SD hingga kini. Sudah dua tahun Aiden di Korea Selatan. Alasannya tak begitu jelas, terakhir dia bilang dia ingin melanjutkan sekolah disana. Sepintas terbesit dipikiranku, Apa Aiden tidak rindu padaku? Kapan Aiden pulang ke Indonesia yah? ah, sudahlah.

Semalam tadi kupandangi bintang, dengan ditemani ‘Boo’ -buku harianku- aku mengenang masa kecil itu. Masa kecil yang penuh gelak tawa dan tanpa luka. Hari itu liburan kenaikan kelas 1 Sekolah Dasar. Saat itu, pertama kali aku melihat langsung balon udara. Semua temanku satu persatu mencoba menaikinya. Mereka seakan terbang diatas sana. Namun hanya aku yang menangis sejadi-jadinya karena aku takut ketinggian. Mama menenangkanku. Ternyata bukan hanya aku, tapi ada Aiden, murid satu sekolah yang beda kelas denganku.

Pada hari itu, pertama aku berkenalan dengannya. Pada hari itu pula kami berjanji suatu hari nanti kami akan menaiki balon udara bersama-sama. Dengan memandangi langit kami menyanyikan sebuah lagu. Lagu masa kecilku dulu “Balon Udara” lagu yang dinyanyikan Sherina.Kami menyanyikannya bersama. Sesekali aku tertawa mengenangnya. Tapi tak kusangka, kini kami telah tumbuh dewasa. Dengan berjalannya waktu janji itupun sepertinya telah dilupakannya.

***

Hari ini hari minggu. Seperti biasa, setiap hari ini Aiden selalu menelponku. Sejak pagi telah aku pandangi telpon genggam itu. Akhirnya waktu yang aku tunggu pun tiba. Kriiing…!

“Hallo? Aiden?,” tanyaku penuh semangat.

“Hai,” celotehnya dari seberang sana.

“hey kapan kamu balik ke Indonesia?,” sahutku.

“iya, aku akan segera pulang ke Indonesia,” ujarnya

“huuff,” kataku menghela napas.

“kok masih segera? kapan dong?,” desakku.

“hei, mau aku ajarin bahasa Korea nggak?,” katanya mengalihkan pembicaraan.

“Boleh, boleh, apa?,” tanyaku penasaran

“tapi cariin sendiri artinya yah?,” ujar Aiden

“kok gitu? itu sih namanya bukan ngajarin, tapi kasih tebak-tebakkan,” celotehku padanya.

“yehh biarin, mau gak?,” pintanya sekali lagi.

“Ok deh, apaan?,” tanyaku lagi.

“Saranghanda…

***

Hari demi hari terlewati. Tapi kini Aiden jarang menelponku. E-mail pun sekarang juga tak pernah. Mungkin hanya surat yang datang. Itupun hanya sekali dalam dua minggu karena pengirimannya yang memerlukan waktu lama. Aku sangat rindu Aiden. Terakhir dia telpon dan memberikan sebuah kata untukku. Tapi sekilas aku telah lupa dengan kalimat itu. Yang aku ingat hanya sebuah kata yang di awali dengan huruf ‘S’ dan di akhiri dengan ‘handa’.

Aku tak begitu menanggapinya, karena saat ini aku sangat sibuk untuk ujian kenaikan kelas 3. Aku selalu membalas suratnya.Tiga bulan berlalu, kini aku telah menjadi siswa kelas 3 SMA. Ku duduk di koridor sekolah. Ku terlamun. Tak terasa pula tiga bulan Aiden tak menghubungiku. Kini Aiden juga tak mengirimi secarik kertas pun untukku. Surat-surat ku pun tak ada yang dibalasnya. Sempat ku berpikir, Apa Aiden sudah melupakan diriku? sahabatnya dari SD hingga kini. Apa Aiden sudah tak ingin berteman denganku atau mungkin dia telah mendapat seseorang yang lebih dari sekedar teman yang mampu menggantikan diriku? ah entahlah, lagi-lagi aku terhasut pikiranku. Kini aku sadari bahwa sebenarnya ada sebuah rasa yang tersimpan di hati. Rasa yang berbeda untuk sekedar seorang sahabat.

“hei cantik?”, kata seseorang mengagetkanku.

“Hei, ada apa?,” pintaku pada Andrew, teman sekelasku.

“hei, main basket yok, daripada bengong disitu ngapain?”

“hmm, males ah,” ujarku tak setuju.

“ayo dong? plis, mau yah?,”pinta Andrew memaksaku.

“hmm, iya deh,” ujarku pasrah.

Andrew adalah kapten basket di sekolah. Tak hanya basket yang ia kuasai, Andrew juga tergolong sebagai anak terpandai disekolah. Dia pernah juara II tingkat propinsi olimpiade matematika. Andrew adalah tipikal orang yang ramah dan baik pada semua orang. Andrew adalah teman terbaik yang pernah aku temui di sekolah ini. Dia sangat baik padaku.

Hari demi hari berganti minggu. Minggu pun berganti dengan bulan. Tapi tetap tak ada kabar dari Aiden. Aku mencoba untuk melupakannya. Semua barang pemberiannya aku simpan dalam kotak memoriam di atas lemari. Aku cukup kecewa. Hatiku terluka karena aku tahu ada rasa cinta. Kini hari-hari aku habiskan bersama Andrew. Entah kenapa, kini Andrew lebih dekat denganku. Dengan kehadiran Andrew aku mulai sedikit melupakan Aiden. Yah, hingga saatnya tiba Andrew menyatakan cinta padaku.

Malam itu, entah kenapa saat Andrew menyatakan cintanya aku teringat pada Aiden, cinta pertamaku. Ingin aku tetesan air mata tapi tak mungkin. Sia-sia sudah ku habiskan air mata jika kini Aiden sudah tak peduli padaku. Aku teringat hanya Andrew yang kini selalu ada disampingku. Hanya Andrew yang selalu ada saat aku menangis mengingat Aiden. Apalah arti cinta jika tak saling mencintai. Akupun menerima cinta Andrew. Aku mencoba untuk mencintainya. Setiap waktu yang ku lalui kini selalu ada Andrew disampingku.

Hari demi hari berlalu. Tiga minggu sudah aku berpacaran dengan Andrew. Kini aku mulai bisa menerimanya. Walau Andrew belum sepenuhnya ada dihati. Yah, aku masih teringat tentang Aiden. Tidak munafik memang, cinta pertama sulit untuk dilupakan. Kini setiap pulang sekolah Andrew selalu mengajakku belajar bersama dirumahnya. Mamanya sangat ramah, begitu juga dengan kakak dan ayah Andrew. Seolah mereka seperti keluargaku sendiri.

Sekarang bulan Nopember, tepat tanggal 15 aku berumur 17 tahun. Aku berharap mendapatkan kado terindah di hari ulang tahun yang ke-17 tahun ini. Tiga hari sebelum ulang tahunku Aiden datang lagi dalam mimpiku. Mimpi saat pertama kali aku bertemu Aiden. Tepat dibawah balon udara yang melayang indah diatas sana. Sejak mimpi itu aku teringat pada Aiden. Aku teringat akan percakapan kami di telpon.

Yah, aku ingat sekarang, Aiden memberikan pertanyaan padaku yaitu arti dari saranghanda, untuk terakhir kalinya aku mendengar suara Aiden di telpon. Namun aku tak peduli. Aku harus bisa melupakan Aiden. Kini sudah ada Andrew disampingku.Hari yang ku tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Hari ini usiaku tepat berumur 17 tahun.

Andrew adalah orang pertama yang mengucapkan selamat padaku. Sore ini Andrew akan mengajakku pergi untuk merayakan ulang tahunku ini. Tentu saja aku senang. Semuanya telah aku siapkan, mulai dari sepatu hingga pakaian untuk acaraku nanti. Mulai pukul jam tiga sore aku mulai berdandan. Itu tidak memerlukan waktu yang lama. Aku menunggu Andrew menjemputku di depan rumah. Ku pandangi jalan. Tak ada satupun kendaraan yang lewat di depan rumah. Namun tiba-tiba sebuah mobil sport putih berhenti didepan rumah. Aku pandangi mobil itu. Aku berharap Andrew di dalam sana.

Seseorang itu keluar dari mobilnya. Sekilas aku seperti mengenal lelaki itu, dia bukan Andrew. Bersamaan itu kuterima sms dari Andrew, dia tidak bisa datang karena ayahnya masuk rumah sakit. Aku kecewa. Kupandangi pemuda itu. Pemuda itu menolehkan badan padaku. Itu Aiden. Hampir saja ku teteskan air mata tapi tidak, aku menahannya. Aiden menghampiriku. Akupun hanya berdiri kaku dan melihatnya berjalan menghampiriku. Aiden terlihat pucat sekali, dia mengenakan baju tebal seperti orang sakit saja. Aku terdiam. Aku menunggu penjelasannya. Kemudian dia mulai mengucapkan kata.

“Maafkan aku,” ucapnya. Namun aku hanya terdiam kecut tak menanggapinya.

“Maafkan aku,” ucapnya sekali lagi.

“Hanya kau orang yang ingin aku temui di akhir usia ku ini,” sambungnya aku semakin tak mengerti.

“Kenapa kau tak ada kabar? kenapa kau tak mau mengangkat telponmu setiap aku menghubungimu? kenapa kau tak membalas suratku? mengapa kau tak membalas email ku?,” tanyaku beruntun hingga ku teteskan air mata. Aiden hanya terdiam. Dia menarik tanganku, kemudian dibelainya. Aku masih menangis tersedu. Aiden menarikku. Dia mengajakku menaiki mobilnya. Aku menolak.

“Aku menunggu seseorang, kau terlambat,” ujarku pelan.

“Aku mohon, ini untuk terakhir kalinya,” pintanya lembut.

Aku menurutinya dan ku naiki mobil sport putih itu. Aiden mengendarainya pelan, sangat pelan. Aku ingat jalan ini. Jalan menuju wisata balon udara dimana saat kelas 1 SD dulu aku bertemu dengan Aiden untuk pertama kalinya. Aku turun dari mobil. Aku memandangi sekitar. Tak ada yang berubah. Aiden menghampiriku, dia mengulurkan tangan untukku. Aiden mengajakku menaiki balon udara. Aku terhenti tepat di depan balon udara tersebut.

“Ada aku, ayolah. Ini janjiku dulu,” ucapnya pelan

“baiklah,” sambungku.

Aku berjalan maju dan ku tutup mataku. Perlahan aku buka mata. Sangat indah suasana diatas sini. Seolah terbang dan sangat mempesona. Terlihat sudut-sudut kota yang indah dan pemandangan sekelilingnya. Aiden hanya terdiam dan menatapku, kemudian ku balas tatapannya. Dia seolah ingin berkata.

“ada yang ingin kau katakan?,” ujarku kaku karena aku masih belum bisa menerima kenyataan ini.

“Maafkan aku, maafkan aku selama ini. Apa kau sudah menemukan arti dari kata yang aku ucapkan di telpon?,” ucapnya. Aku hanya diam dan menggeleng.

“Saranghanda artinya aku cinta kamu. Maafkan aku karna aku mencintaimu. Sebenarnya selama ini aku ke Seoul tak hanya untuk melanjutkan sekolah, se..sebenarnya..” ucapnya terbata-bata.

“Sebenarnya apa?,” tanyaku penasaran.

“Sebenarnya aku sakit. Aku menjalani perawatan medis disana. Aku sakit kanker otak. Maafkan aku karna aku tak cerita padamu,” ucapnya lemah.

Aku hanya terdiam melihatnya bicara. Aku tak percaya ini. Perlahan tetesan air mataku mengalir. Aiden mengusapnya untukku.

“Sudahlah jangan menangis,” ucap Aiden padaku

“A..Aku.. Maafkan aku,” sambungku terisak pilu.

Aku menangis tersedu. Aiden memberikan bahu nya untukku.

“Aku ingin bertemu denganmu sebelum aku tiada. Maafkan aku telah membohongimu. Aku tak ingin mengecewakanmu. Sudah empat bulan ini aku koma dirumah sakit, karena itu aku tak bisa membalas semua surat-suratmu. Maafkan aku,” ujarnya lembut.

“Sudahlah cukup,” ucapku dengan terisak.

“Kau ingat janjiku dulu? janji yang aku ikrarkan pertama kali kita bertemu?,” tanyanya padaku.

Aku hanya menatapnya. Wajah Aiden pucat sekali. Tiba-tiba keluarlah darah dari hidungnya.

“kau mimisan,” kataku terkejut melihatnya.

Aku mengusapnya. Banyak darah yang keluar dari hidungnya. Aku sangat takut sesuatu terjadi padanya. Aku sangat khawatir. Aiden hanya memandangku. Dia menatapku penuh lembut, kemudian tanganku dipegangnya. Dingin sekali badannya.

“Maukah kau menyanyikan lagu itu? sangat indah sekali panorama diatas sini. Aku seakan terbang bersamamu. Maukah kau menyanyikannya untukku?,” katanya lembut.

Aku menurutinya. Ku nyanyikan lagu itu. Lagu dimana kita pertama kali bertemu. Yah, Balon Udara. Aiden menyandarkan kepalanya di bahuku. Dengan masih ku teteskan air mata, ku nyanyikan lagu itu. Aiden menggenggam jemari tanganku. Ku lantunkan lagu itu dengan penuh cinta dan haru.

Terasa badan Aiden sangat lemah. Kupanggil Aiden. Tapi Aiden tak menjawab. Matanya terpejam dan terlihat pucat pasi. Kubangunkan Aiden tapi dia tak terbangun. Ku goncangkan tubuhnya tapi tetap saja tak ada satupun suara. Hati ku seakan teriris. Aku tak percaya.

***

Kini aku berpijak di depan pusara makammu. Ku teteskan air mata. Ku terbayang akan semua yang telah kita lalui bersama. Walau kini telah ada Andrew di sampingku namun semua tentangmu akan ku kenang selalu di hatiku selamanya. Akan aku kenang selalu melody yang pernah kita alunkan bersama.

Langit biru.

Awan putih.

Terbentang indah lukisan yang Kuasa.

Ku melayang.

Di udara.

Terbang dengan balon udaraku.

Oh sungguh senangnya lintasi bumi.

Oh indahnya dunia…

(SHERINA)

About mandafishy

Iam just me! Nothing more nothing less and im not pretty but im the best :D Called me just MISS. SIMPLE

Posted on February 14, 2011, in Imagination and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

I will appreciate you more if you'll give a comment, thanks: D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: