Resensi Terstruktur Bahasa dan Sastra Indonesia

Jika Taaruf Berbuah Poligami
(Sebuah Resensi)
Ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur mata pelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia
Pembina : Lilis Indrawati, S.pd
Amanda Lia Arselia
XI IA 2 / 03
Dinas Pendidikan Kota Malang
SMA Negeri 7 Malang
Jl. Cengger Ayam 1/14
Desember 2010

Jika Taaruf Berbuah Poligami

Judul : Ayat Ayat Cinta

Pengarang : Habiburrahman El Shirazy

Penerbit : Penerbit Republika

Tahun Terbit : Cetekan XXIV, Januari 2008

Tebal Buku : 420 halaman

Cerita dari novel Ayat Ayat Cinta ini terlahir dari seorang lulusan The Institute for Islamic in Cairo. Habiburrahman El Shirazy adalah seorang novelis muda yang lahir di Semarang, pada hari Kamis, 30 September 1976. Beliau biasa dipanggil ‘Kang Abik’ oleh adik-adiknya semasa SLTA. Kang Abik ini adalah sastrawan muda yang tak hanya menulis novel, namun beliau juga pernah menulis naskah teatrikal puisi sekaligus menyutradarai pementasan drama. Berikut ini adalah beberapa novel karya Kang Abik, Ayat Ayat Cinta, Ketika Cinta Berbuah Surga, Pudarnya Pesona Cleopatra, Di Atas Sajadah Cinta, langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, Dalam Mihrab Cinta, Ketika Cinta Bertasbih dan lain sebagainya. Selain itu, inilah karya-karya drama dan pementasannya di Cairo, diantaranya: Wa Islama (1999), sang Kyai dan Sang Durjana (2000), Darah Syuhada (2000), dan tulisannya yang berjudul Membaca Insaniyyah al Islam terkodifikasi dalam buku Wacana Islam Universal yang diterbitkan oleh Kelompok Kajian MISYAKATI Cairo, 1998.

Dalam merampungkan Ayat Ayat Cinta ini Kang Abik didampingi oleh kitab-kitab sebagai sumber penulisan novelnya, antara lain: As-sunnah wal Bid’ah (Sunnah dan Bid’ah) karya Syaikh Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, At Tadzkirah (Peringatan) karya Imam Syamsuddin Al Qurthubi, Fatawa Mu’ashirah (Fatwa-fatwa Kontemporer) karya Syaikh Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Kitab Ar-Ruuh (Kitab Ruh) karya Imam Ibnu Qayyimal Jauziyyah, Limadza Yakhafunal Islam (Kenapa Mereka Takut Kepada Islam) karya Prof. Dr. Abdul Wadud Syalabi, Makanatul Mar’ah Fil Islam (Posisi Wanita Dalam Islam) karya Prof. Dr. Muhammad Biltaji, Manahilul ‘Irfan fi Ulumil Quran (Sumber Pengetahuan Ilmu-ilmu Al-Quran) karya Syaikh Prof. Muhammad Abdul adhimAz-Zarqani, Nihayatuz Ziin fi Irsyadil Mubtadiin (Permata Paling Indah Dalam Membimbing Para Santri Pemula) karya Syaikh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi, Tuhfatul ‘Arus aw Az Zawaj Al Islamiy As Sa’id (Hadiah Untuk Pengantin atau Perkawinan Islami Yang Bahagia) karya Syaikh Mahmoud Mahdi Al-Istanbuli, dan Tuhfatul ‘Aris wal ‘Arus (Hadiah untuk Pengantin Lelaki dan Pengantin Perempuan) karya Syaikh Muhammad Ali Qutb. Novel ini sendiri berhasil dirampungkan pada hari Rabu, 8 Oktober 2003, di Bangetayu Wetan, Semarang, pukul 01:03 dini hari.

Dalam menuliskan karya-karyanya, termasuk novel Ayat Ayat Cinta, Kang Abik menyisipkan tentang aspek religius, inilah yang menjadi ciri khas beliau. Dalam novel yang beliau tulis, selalu diselipi nilai-nilai budaya Islam sekaligus dakwah islam. Penulisan yang dituangkan penuh daya tarik tersendiri, memiliki bahasa yang berkesan, dan gampang dimengerti oleh semua orang. Pada novel ini, Kang Abik memberikan cerita tersendiri yang sepenuhnya terjadi di kota Cairo meskipun si tokoh utama pemuda Indonesia yang mencari ilmu disana. Novel ini disajikan dengan baik sesuai syariat Islam yang tidak menentang dalam kehidupan sehari-hari.

Mengangkat dari tema cinta, cerita ini di gandrungi oleh para remaja yang merupakan aspirasi menyalurkan dakwah Islam yang dikemas secara apik dan profesional. Ayat Ayat Cinta memiliki alur cerita yang humanis dan romantis. Disetiap jeda alur memiliki makna tersendiri, pertemuan dan dipertemukan, yang menjadi ciri khas cerita. Novel ini memiliki alur cerita yang bergerak maju atau yang biasa disebut progresif. Novel ini bercerita tentang seorang pemuda asal Indonesia yang bertemu dengan gadis Mesir. Seorang gadis yang beragama kristen koptik yang sangat taat, namun sangat mengagumi bahasa Al Qur’an. Pertemuan selanjutnya si tokoh utama melakukan taaruf yang merupakan awal dari masalah yang akan terjadi. Pada cerita ini, si tokoh utama dikagumi oleh empat wanita sekaligus yang akan menjadi permasalahan permasalahan disetiap bab-bab yang tertulis.

Novel ini memperkenalkan tokoh Fahri bin Abdullah Shiddiq yang berguru di kota Cairo, Mesir, untuk menulis tesis master di Al azhar. Fahri adalah pemuda asal Indonesia yang tinggal di sebuah flat enam tingkat, yang tinggal berlima bersama Saiful, Rudi, Hamdi, dan Mishbah, yang sama-sama berasal dari Indonesia. Fahri adalah pribadi pemuda yang ramah dan baik hati. Tepat diatas flat yang mereka tempati, tinggallah sebuah keluarga besar Girgis. Disinilah gadis asli Mesir bernama Maria tinggal.

Maria adalah putri sulung Tuan Boutros Rafael Girgis yang beragama Kristen Koptik yang sangat taat. Maria memiliki seorang adik laki-laki yang bernama Yousef. Berbeda dengan gadis Kristen Koptik lainnya, Maria yang biasa dipanggil Maryam ini sangat mengagumi bahasa Al Qur’an. Tak heran jika gadis ini hafal beberapa surat Al Qur’an yaitu, surat Maryam dan surat Al-Maidah diluar kepala. Maria sangat mengagumi Al Quran meskipun ia tak pernah mengaku muslimah. Diam-diam Maria menaruh hati pada Fahri, namun hanya ia tuangkan lewat buku hariannya.

Selain bertetangga dengan keluarga Girgis, dalam flat itu juga tinggal keluarga besar Bahadur. Bahadur memiliki tiga orang anak perempuan yang bernama Mona, Suzana, dan Noura. Di apartemen ini Bahadur terkenal dengan cara bicaranya yang kasar dan tidak bisa menghargai orang lain. Kulitnya hitam namun tidak sehitam orang Sudan. Noura, anak bungsunya yang sering disiksa. Seluruh tetangga apartemen tidak ada yang berani menolongnya karena jarang yang mau berurusan dengan Si Hitam Bahadur. Noura sangat malang nasibnya seperti di anak tirikan.

Setiap hari Ahad dan Rabu Fahri belajar qiraah sab’ah pada Syaikh Utsman di Shubra, untuk menuju Shubra Fahri menggunakan transportasi metro. Disinilah Fahri bertemu dengan wanita bercadar, Aisha. Pertemuan di metro ini secara tidak sengaja, terjadi adanya konflik yang melibatkan Aisha yang menolong orang Amerika di metro. Disini Fahri menolong Aisha karena tidak tahan mendengar seorang Ashraf Mesir yang terus menghina Aisha karena memberi tempat duduk di metro pada seorang nenek dari Amerika. Disinilah awal Fahri bertemu dengan Aisha dan bertukar nomor telpon.

Suatu hari Fahri mendengar kabar menggembirakan dari Musthafa, teman Mesir satu kelas di pasca. Pengumuman kelulusan untuk menulis tesis master di Al Azhar telah diumumkan, salah satunya nama “Fahri Abdillah Shiddiq” tertulis disana. Fahri sangat senang mendengar kabar menggembirakan itu, untuk merayakan kelulusannya, Fahri mengajak teman-teman satu flatnya kecuali Mishbah, yang berhalangan hadir untuk merayakan syukuran diatas suthuh apartemen. Dengan menikmati keindahan kota Cairo dan cahaya lampu rumah dan gedung-gedung dekat sungai Nil, mereka berpesta berempat, hanya sekedar makan-makan dan berbincang.

Semakin malam kota Cairo semakin sunyi. Di tengah asiknya bercengkerama, tiba-tiba terdengar sayup-sayup seorang gadis menjerit dan menangis. Sumber suara itu ternyata berasal dari gerbang apartemen. Bahadur kembali menyiksa Noura, sumpah serapah kembali terdengar. Noura disiksa dan diseret ke tengah jalan oleh Bahadur dan seorang kakaknya. Noura hanya menangis sesenggukan sambil memeluk tiang merkuri dibawah sana. Ingin sekali Fahri menolongnya tapi apalah daya Fahri bukan makhramnya, apalagi tengah malam. Terbesit ide dipikiran Fahri untuk membangunkan Maria. Fahri mencoba meminta Maria lewat sms untuk menolong Noura dibawah sana, tapi Maria menolaknya. Maria tidak mau ayahnya berurusan dengan Bahadur, Si Kulit Hitam itu. Fahri terus membujuknya. Fahri tak tega melihat Noura yang terus terusan menangis sesenggukan dibawah sana. Maria luluh hatinya, ia menuruti perkataan Fahri. Maria turun, menolong Noura ditiang merkuri itu. Maria mengajak Noura untuk tinggal sementara di apartemennya, hanya untuk semalam.

Keesokan harinya Fahri meminta bantuan Nurul, Ketua Wihdah, induk organisasi mahasiswa Indonesia di Mesir. Fahri meminta bantuan Nurul karena Noura tak ingin kembali pulang ke apartemen Bahadur, untuk sementara waktu Fahri mengasingkan Noura pada Nurul. Disini Fahri mulai mencari tau siapa Noura. Dugaan Fahri benar, Noura bukanlah anak kandung Bahadur. Rambut Noura yang pirang dan kulitnya yang putih bersih berbeda sekali dengan Bahadur yang berkulit hitam dan berambut ikal. Beberapa hari kemudian Fahri menemukan orang tua kandung Noura. Fahri tak sendiri dalam menyelesaikan penyelesaian ini, ia juga dibantu oleh beberapa kawannya dan Nurul.

Disamping itu, Fahri dijodohkan dengan Aisha oleh Syaikh Ustman. Perjodohan ini diawali dengan perkenalan (taaruf). Fahri memantapkan diri dan akhirnya mereka menikah. Disamping kebahagian itu, Maria tidak tahu apa yang terjadi. Maria sedang berlibur sekeluarga dan tidak menerima undangan Fahri. Sementara itu, Nurul terisak dalam kamar dan menyesal atas keterlambatan pernyataannya. Nurul juga mencintai seorang Fahri, karena ketulusan hati dan luhur budinya.

Cerita ini berjalan rumit dengan Noura yang menfitnah Fahri menghamilinya, sementara Maria sebagai saksi dalam kasus ini tergeletak dirumah sakit. Maria tak sadarkan diri, hingga akhirnya Fahri menikahi Maria karena permintaan Aisha. Maria membawa penyakit keturunan yang dibawa ibunya. Penyakit itu bisa di atasi dengan kehadiran orang yang disayangi dan menuruti apa yang diinginkannya. Permintaan Maria tertulis dibuku hariannya yang ditemukan Madame Nahed, ibu Maria. Fahri terpaksa menikahi Maria, gadis Kristen Koptik yang tidak sejalan dengannya. Pernikahan ini tidak semata-mata hanya untuk menjadikan Maria sebagai saksi dipersidangan kasus Noura tapi, pernikahan ini juga untuk menolong Maria atas penyakit yang hingga saat ini dideritanya. Pernikahan ini dilakukan dirumah sakit. Tak lama setelah pernikahan usai, Maria membuka matanya.

Persidangan terakhir atas kasus Noura di adakan. Semua menentang dan menyalahkan Fahri atas apa yang telah dilakukan. Hakim akan memukulkan palu kemeja hijaunya, namun Maria datang. Kali ini Maria hadir sebagai saksi. Dia menjelaskan semua yang terjadi di malam ia menolong Noura di depan gerbang dibawah apartemennya. Yah, Fahri terselamatkan atas tuduhan Noura yang telah menghamilinya. Namun, tiba-tiba keadaan Maria kembali memburuk. Maria dibawa kerumah sakit kembali.

Aisha membawa Fahri ke rumah sakit untuk diperiksa dan di tes atas apa yang diperlakukan oleh polisi Mesir dipenjara. Aisha sengaja memesan kamar untuk Fahri yang bersebelahan dengan kamar Maria. Hal ini dilakukan Aisha agar lebih mudah untuk memantau keduanya. Aisha menganggap Maria seperti adiknya sendiri. Saat Fahri mulai terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba Aisha membangunkannya. Aisha menangkap igauan Maria yang aneh dengan membaca surat suci Al Quran.

Cerita ini berakhir dengan Maria yang menjadi seorang Mualaf karena mimpinya yang bertemu dengan Bunda Maryam di Babur Rahmah. Maria menceritakan semua mimpinya, dimulai dari dia menemukan istana megah yang bersinar, tertutupnya pintu surga baginya, hingga bertemunya dengan Bunda Maryam. Mimpi yang sangat aneh, yang membuat Fahri dan Aisha bertanya-tanya tentang apa arti dari mimpi itu. Maria menghembuskan napas terakhirnya setelah membaca syahadat dan berwudhu, tepat dimalam yang sama dengan mimpinya.

Novel ini disajikan sangat apik dan memiliki asupan religius yang tinggi namun sederhana, inilah yang menjadi kelebihan utama Ayat Ayat Cinta. Disamping itu, Ayat Ayat Cinta memilki ciri khas tersendiri, yaitu setiap tempat yang terjadi sepenuhnya berada di kota Cairo, Mesir. Setiap setting yang dilukiskan, digambarkan dengan kata-kata sederhana dan mudah dimengerti. Hal ini yang akan memudahkan kita untuk melukiskan setiap tempat, waktu, ataupun suasana yang sedang terjadi. Ada empat bahasa yang digunakan dalam novel ini, yaitu; Arab, Indonesia, Inggris, dan Deutch. Meskipun bahasa Indonesia yang cenderung lebih banyak penggunaannya, novel ini dapat memberikan pembelajaran dari segi bahasa untuk menambah wawasan kita.

Novel ini di lengkapi oleh cuplikan-cuplikan dari Al Quran dan hadits yang mendukung jalannya cerita, seperti yang terdapat pada kutipan bab sebelas yaitu “…Dalam Ar-Ra’ad ayat sebelas Allah berfirman, Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah nasibnya.”, selain itu, ada juga cuplikan QS. Maryam: 27-31, QS. Ar-Rahman: 70-73, QS. Asy Syura: 27, QS. Al-Israa: 29, hadis riwayat Ibnu Jarir, hadis shahih riwayat Imam Abu Daud dan lain sebagainya. Tak hanya sebagai media dakwah Islam namun, novel ini juga diselipi kata-kata mutiara yang membangun, seperti cuplikan kalimat yang saya ambil dari bab enam -Keributan Tengah Malam-  yang berbunyi “…Memenuhi segala kecocokan dengan hati semua manusia adalah hal yang tidak mungkin kamu capai! Kata-kata Imam Syafii mengingatkan diriku.” , selanjutnya pada bab sebelas –Getaran Cinta- berbunyi berikut, “… Saya suka dengan  kata-kata bertenaga Thomas Carlyle: ‘Seseorang dengan tujuan yang jelas akan membuat kemajuan walaupun melewati jalan yang sulit. Seseorang yang tanpa tujuan, tidak akan membuat tujuan walaupun ia berada di jalan yang mulus! …”.

Novel ini terkesan fenomental dan memberikan  inspirasi bagi pembaca. Novel ini memberikan motivasi baru yang memang layak disebut sebagai novel pembangun jiwa. Setiap bahasa yang digunakan tersusun secara indah tanpa harus menggunakan kalimat kiasan. Penokohan pada cerita ini digambarkan dengan kuat dan terperinci. Seluruh aspek yang disampaikan mudah dimengerti dan diterima dengan baik meski ada beberapa kalimat yang kurang dapat dicerna. Penggunaaan bahasa Jawa yang tidak semua orang dapat menafsirkan dengan baik, seperti makna dari kata pakewuh, liyer-liyer, kungkum,dan sebagainya.

Disamping itu, pengetikan tulisan yang digunakan masih ada kekeliruan yang membuat arti dari suatu kalimat berbeda, seperti kutipan pada bab sembilan –Hadiah Perekat Jiwa- yang berbunyi, “…  Kenangan indah yang tiada terlupakan. Lebih indah dari pesta meniup lilin dan bernyanyi happy bird day to you.”, seharusnya kata ‘bird’ disini menggunakan kata ‘birth’ yang berarti ulang tahun. Pada sisi inilah kelemahan buku terlihat.

Cerita ini sepenuhnya memberikan pelajaran islami yang mengandung unsur fikih, akhlaq, dan akidah. Tak hanya itu, kisah ini juga menjelaskan islam dalam bidang hukum,  sosial, dan budaya. Oleh karena itu, novel Ayat Ayat Cinta ini layak dibaca oleh kalangan remaja dan dewasa khususnya yang beragama Islam. Kisah-kisah cinta yang digambarkan oleh penulis terkesan menarik dan sederhana tanpa harus terkesan vulgar dan terbuka.

originally written by Amanda Lia A.

About mandafishy

Iam just me! Nothing more nothing less and im not pretty but im the best :D Called me just MISS. SIMPLE

Posted on February 11, 2011, in Imagination and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Download Kumpulan Contoh Makalah Gratis

  2. Finally, an issue that I am passionate about. I have looked for information of this caliber for the last several hours. Your site is greatly appreciated.

I will appreciate you more if you'll give a comment, thanks: D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: